REZEKI RUMAH MIRING “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS Nuh [71] : 13) Seorang ibu yang mengaku bernama Dessy datang menghampiri saya usai sebuah pertemuan. “Boleh berbicara sebentar, Pak?!” tanyanya. “Silakan bu…!” jawab saya. Saat itu saya baru saja berbicara di hadapan sekelompok kaum ibu mengenai kebesaran Allah Swt dan bagaimana Dia Swt menjawab setiap doa hambaNya. Acara sudah usai dan saya tengah istirahat sejenak sambil menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah. Bu Dessy menyampaikan pengalamannya saat saya masih terus mengunyah. Begitu antusias ia menuturkan hingga saya pun mulai pasang telinga. Ia mengabarkan bahwa ia bersyukur memiliki seorang suami yang amat shalih. Keshalihan suami itulah yang membuat Dessy mengambil keputusan menikah dengannya, meskipun awalnya Dessy adalah seorang non-muslimah. Setelah beberapa tahun menikah dan dikaruniai dua orang anak, Dessy mendapati bahwa ia merasa tidak cocok dengan agama Islam, bahkan belakangan ia kembali kepada agama semula. “Saya terus mencoba untuk membuat anak-anak ikut ke agama saya namun rupanya mereka lebih sayang kepada ayah mereka…” tutur Dessy. Ia melanjutkan bahkan saking kuatnya pengaruh ketaatan beragama suaminya, anak-anak tumbuh menjadi keturunan yang shalih dan kuat berakidah. Hingga Dessy menuturkan pengalaman dialognya dengan seorang anaknya yang berumur 4 tahun saat itu dan membuat jalan hidup Dessy kembali berubah. “Kami saat itu sedang asyik bermain ayunan di taman…. Kami tertawa riang dan bercanda….. Saat kami kelelahan bermain dan beristirahat sambil duduk di taman aku berkata kepada anakku, ‘Nak…, enak sekali ya bermain di taman seperti ini!’ Sang anak pun menjawab, ‘Ya Ma, asyik sekali… Tapi sayang ya kita cuma bisa bermain bersama di sini, tidak di surga.’jawab sang anak.” “Memangnya mengapa kita tidak bisa main seperti ini di surga nanti?!” tanya Dessy keheranan. Anaknya yang tersayang itu menjawab, “Kita kan semua muslim, sementara mama bukan hamba Allah yang muslimah. Sedang surga hanya Allah berikan kepada hamba yang taat kepadaNya….” DEGGG….! Hati Dessy tersentak. Ia tidak menyangka bahwa anaknya mampu berpikir sedemikian jauh. Hati Dessy menjadi galau. Matanya kini berkaca-kaca membayangkan bahwa ia tidak bisa berjumpa lagi dengan anaknya di surga nanti. Namun sejurus kemudian ia malah berpikiran buruk terhadap suaminya. “Ini pasti ulah suamiku!” batin Dessy. Ia menyangka bahwa suaminya pasti telah mendoktrin anaknya sedemikian rupa. Sore itu sepulang suaminya dari tempat bekerja Dessy menyerangnya habis-habisan. Anehnya meski Dessy berteriak-teriak dengan suara melengking, sang suami malah terlihat begitu tenang dan selalu tersenyum. Begitu Dessy mereda sang suami memberinya penjelasan dan menyadarkan Dessy untuk kembali ke jalan Allah Swt. Alhamdulillah hati Dessy meluluh. Hidayah Allah Swt kembali lagi menyapanya. Dessy berniat untuk kembali menjadi muslimah dengan satu syarat bahwa sang suami harus mencarikan seorang guru yang tepat untuk Dessy agar ia yakin dan mantap memeluk agama Islam. Suami Dessy menerima syarat itu lalu ia mengajak Dessy untuk melakukan shalat Isya berjamaah. Maka Dessy kembali menyembah Allah Swt setelah sekian lama ia meninggalkanNya. Shalat Isya di malam itu begitu sejuk terasa dalam batin Dessy dan suaminya. Sang suami bersyukur kepada Allah Swt sambil menitikkan air mata bahagia, sedang Dessy menengadahkan wajah dan kedua tangannya sambil memanjatkan doa dengan suara yang terpendam dalam dada. Dessy sampaikan kepada Allah, Tuhannya: “Ya Allah…., hingga kini aku belum merasakan keagungan dan kehebatanMu… Andai betul Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Kuasa…, mohon kiranya Engkau membuat rumah ini laku terjual!” Demikianlah doa yang dipanjatkan Dessy malam itu kepada Tuhannya. Sebuah doa dari hamba yang lemah yang ingin menguji kekuasaan dan keperkasaan Allah Swt. *** Saya terperanjat mendengar tutur doa yang pernah Dessy panjatkan. Saya bertanya kepada Dessy apakah rumah itu kemudian laku terjual? Maka Dessy pun melanjutkan kisahnya……… Sudah 7 bulan yang lalu rumah yang ia diami saat itu pernah diiklankan untuk dijual. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan lebih dari itu Dessy dan suaminya memasarkan rumah mereka di berbagai media. Namun sayang tidak ada satu pun respon positif dari iklan yang dipasang. “Jangankan melihat lokasi, telefon masuk pun yang menanyakan rumah tidak ada” jelas Dessy singkat. “Kami pun menyadari bahwa memang rumah kami sulit untuk dijual. Sebab lokasi rumah itu di lingkungan warga keturunan yang masih begitu percaya hoki dan feng shui. Ditambah lagi bentuk tanah rumah kami miring. Apalagi nomor rumah kami adalah 4 (empat) yang berarti mati dan membawa sial. Kami sudah putus asa menjual rumah itu, hingga kami berhenti beriklan” jelas Dessy. Saat suami Dessy meyakinkannya untuk kembali memeluk Islam dan bercerita akan keagungan Allah. Maka Dessy pun ingin menguji kebenaran dari kuasa Allah Swt itu. Sebab itu Dessy berdoa dengan redaksi di atas. Sebuah doa yang menantang kekuasaan Allah Ta’ala. *** “Terus bagaimana kelanjutan kisahnya, bu….?” tanya saya tak sabar. Maka Dessy pun melanjutkan kisahnya: Seperti rutinitas harian yang Dessy kerjakan maka pagi itu ia berangkat ke toko miliknya. Sepanjang hari Dessy menanti ijabah dari Allah Swt atas doa yang ia panjatkan. Namun hingga sore hari masih belum ada pertanda akan datangnya ijabah doa itu. Ba’da Ashar suami Dessy datang menjemput. Saat baru saja tiba Dessy langsung bertanya penuh harap kepadanya, “Apakah ada orang yang datang menanyakan rumah, Pa?!” Sang suami malah balik bertanya, “Memangnya apakah kamu pasang iklan kemarin?!” Dessy menjawab, “Tidak!” “Ngawur kamu, Ma…. Masak tidak pasang iklan terus berharap ada orang yang datang menanyakan rumah!!!” Dessy tidak membalas kalimat terakhir dari mulut suaminya, namun ia membatin, “Ya Allah, rupanya Engkau tidak berkuasa seperti yang aku harapkan!” Tak lama setelah itu Dessy dan suaminya kembali pulang ke rumah. Saat itu kira-kira pukul setengah lima sore. Dessy dan suaminya baru tiba di rumah. Mereka tengah berada di kamar dan baru saja berganti pakaian. Mereka saling bertukar cerita dan pengalaman yang mereka lalui hari itu. Dalam perbincangan mereka di kamar saat itu, tiba-tiba mereka berdua mendengar ada suara seorang perempuan asing mengucapkan salam di luar rumah. Dessy mengintip lewat jendela. Di sana ada seorang wanita berjilbab panjang dengan warna muram. Sekilas Dessy menyangka bahwa perempuan itu pasti datang untuk meminta sumbangan. Dessy keluar dari kamar dan ia berpesan kepada pembantunya untuk memberi infak bila perempuan di luar sana meminta sumbangan. Usai berpesan Dessy pun kembali ke dalam kamar. Pintu kamar kemudian diketuk oleh sang pembantu dan Dessy pun keluar. “Bu…, perempuan di luar tadi katanya datang mau melihat rumah” jelas sang pembantu. Deggg….! sontak Dessy terperanjat. Tak percaya akan berita yang didengarnya, maka Dessy bergegas untuk membukakan pintu bagi tamunya. “Wajah tamu itu begitu sumringah….” papar Dessy. “Setiap kali ditunjukkan sebuah bagian ruang dari rumah kami, ia selalu bertasbih menyebut nama Allah dan kegirangan” imbuhnya lagi. Ia menyatakan tertarik dengan rumah Dessy dan menanyakan berapa harga yang diminta. Di luar dugaan Dessy sang tamu tidak hanya setuju dengan harga yang disebutkan, bahkan wanita itu mengajaknya untuk pergi ke notaris keesokan paginya untuk transaksi jual-beli rumah. SUBHANALLAH….! Dessy kegirangan sore itu dan malam harinya ia bermunajat kepada Allah untuk menyampaikan rasa syukurnya atas ijabah doa yang Allah Swt berikan. Esok paginya ia datang ke notaris bersama suami dan ibu calon pembeli rumah. Akte jual-beli rumah sudah diselesaikan dan proses akad tersebut begitu mudah dan cepat. Wajah Dessy begitu sumringah, dan dalam obrolan di kantor notaris itu Dessy sempat bertanya kepada ibu yang membeli rumahnya, “Bu…, apa yang membuat ibu tertarik dengan rumah kami dan darimana ibu mencari infonya?” Sang ibu pembeli rumah menjawab, “Saya memang sudah lama mencari rumah di daerah Kelapa Gading, Jakarta. Namun belum ketemu jodohnya barangkali. 2 malam yang lalu sehabis shalat Isya saya merasa kegerahan di dalam rumah. Sambil ngobrol dengan suami di teras rumah, maka saya ambil setumpuk koran lama di meja yang ada di teras untuk kipasan. Lagi asyik ngobrol eh… tiba-tiba saya melihat ada sebuah iklan baris yang menjual rumah di daerah Kelapa Gading. Melihat ukuran rumah dan harganya kok sepertinya cocok betul dengan rumah yang saya cari. Maka keesokan harinya saya baru datang ke rumah bapak-ibu.” Mendapati penjelasan sang ibu pembeli, Dessy menjadi terkesima dan melongo. Ia seolah tak percaya akan apa yang didengarnya. Sekali lagi Dessy menegaskan, “Dua malam yang lalu ibu membaca iklan baris itu?! Koran itu terbitan tanggal berapa dan pukul berapa ibu berada di teras rumah sambil kipas-kipasan?!” “Gak tahu ya bu tanggal berapa koran tersebut tapi rasanya mungkin 7 bulan lalu itu koran. Sementara kalau waktu saya ngobrol dengan suami di beranda rumah saat itu mungkin kira-kira pukul 7 malam mungkin ya…” jawab sang ibu pembeli ringan. “ALLAHU AKBAR….!” Dessy memekik. Ia terdiam sejenak dan tak sanggup berkata apa-apa. Beberapa bulir air mata kini menitik di pipinya. Sang suami dan ibu pembeli rumah bertanya apa gerangan yang terjadi. Lama Dessy terdiam. Tak sanggup ia mengangkat wajah. Setelah agak tenang Dessy menjelaskan bahwa 2 malam yang lalu ia shalat Isya bersama suami setelah sekian lama ia murtaddah. Ia ceritakan kepada semua yang hadir di ruangan notaris itu bahwa malam itu ia berdoa dengan redaksi menantang kekuasaan Allah Swt. Sungguh diluar jangkauan pikiran Dessy bahwa kalimat-kalimat doa itu rupanya naik menghadap Allah Swt, dan pada saat yang sama Allah Swt menjawab doanya dengan memberikan pantulan sinar pada tumpukan koran lama yang ada di beranda rumah ibu pembeli. Ibu pembeli rumah lalu merasa kegerahan dan Allah Swt menggerakkan tangannya untuk mengambil koran lama untuk dibuat kipas. Maka iklan rumah yang berbulan-bulan itu akhirnya menemui calon pembelinya. SUBHANALLAH! Dalam ruangan notaris itu Dessy berikrar bahwa kini ia tidak ragu lagi terhadap Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa. Sungguh, keagungan Allah Swt amat menakjubkan. Apakah Anda merasakannya?! Cahaya Langit, Bobby Herwibowo  JALAN TERANG UNTUK BAYAR HUTANG Seorang pria bernama Mukhlis tengah mendekam di Lapas Sukamiskin, Bandung. Bisnis yang begitu menggiurkan sesaat membuatnya terjerembab hutang hingga lebih dari Rp 2 milyar. Ia tak sanggup bayar dan perusahaan kreditur pun memperkarakannya hingga ia dipenjara. Hari itu adalah Ahad, sudah dua pekan lebih Mukhlis berada di dalam sel sempit di balik jeruji. Ia merasa sedih dan kesepian. Kebebasan yang biasa ia hirup sebelumnya kini hanya tinggal kenangan. Jangankan untuk bersenang-senang dengan rekan dan sahabat, untuk berkumpul dengan keluarga tercinta saja sudah tidak lagi bisa. Mukhlis merasa sedih, dan ia berjanji tidak ingin lagi hidup seperti ini. Berkali-kali dengan mulutnya ia gumamkan doa kepada Allah Sang Maha Penolong dari balik jeruji agar ia dapat menyelesaikan perkara dan segera bebas dari penjara dan kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Dalam kesedihan yang Mukhlis alami, tiba-tiba seperti ijabah doa yang datang dari Allah Swt maka Mukhlis dapati ustadz Iman sedang berkeliling dari satu sel ke sel lainnya. Ustadz Iman adalah pembimbing rohani Islam para tahanan yang kerap memberikan pelajaran mental bagi setiap tahanan yang ada di Lapas Sukamiskin. Sepekan dua kali biasanya ustadz Iman datang ke lapas. Demi melihat datangnya ustadz Iman maka Mukhlis pun memanggil beliau dari balik jeruji. Terjadilah obrolan antara Mukhlis dan ustadz Iman. Banyak nasehat yang disampaikan sang ustadz kepada Mukhlis, termasuk salah satu nasehatnya adalah agar Mukhlis rajin bersedekah. Ustadz Iman menyampaikan bahwa sedekah itu menjadi salah satu cara yang membuat datangnya pertolongan Allah Swt. Mukhlis meresapi nasehat itu, maka sejurus kemudian ia bangkit untuk mengambil sesuatu. Ia buka tas dan dari dalam tas tersebut ia ambil uang sejumlah Rp 1 juta dan ia berikan kepada sang ustadz. “Ustadz..., mohon salurkan uang ini sebagai sedekah saya. Terserah ustadz mau berikan kepada siapa... saya berharap dengan sedekah ini saya akan mendapat pertolongan Allah seperti yang ustadz sampaikan kepada saya!” Sang Ustadz menerima sedekah Mukhlis. Beliau berjanji untuk menyalurkan sedekah tersebut selekas mungkin. Tak lupa sang Ustadz mendoakan Mukhlis agar segala masalah yang ia hadapi diberi kemudahan oleh Allah Swt. Sejurus kemudian ustadz Iman pun berlalu meninggalkan Mukhlis. ===0=== Ustadz Iman kembali ke kampungnya. Sebelum beliau tiba di rumah beliau menyempatkan untuk mampir di sebuah warung kecil. Beliau membeli sesuatu di sana. Teringat akan titipan sedekah Mukhlis, maka ustadz Iman pun berbincang dengan pemilik warung. “Bu, punten..., apakah di warung ini ada orang-orang miskin yang punya hutang dan belum bisa terlunaskan?!” tanya ustadz Iman kepada ibu pemilik warung. “Ada ustadz....! ada beberapa orang susah yang punya hutang di warung saya.” jawab ibu pemilik warung. “Berapa orang bu kira-kira jumlah mereka dan besaran hutangnya?!” kejar ustadz Iman lagi. Maka ibu pemilik warung pun menceritakan bahwa ada sejumlah orang miskin yang berhutang di warungnya, dan itu membuat usahanya sulit berkembang sebab modal yang ia putar tertahan oleh hutang-hutang mereka. Sang ibu pemilik warung menyebutkan sejumlah nama, namun setelah dihitung semua orang itu memiliki jumlah hutang Rp 1,8 juta. Sang ibu mengutarakan; biasanya mereka berhutang keperluan sehari-hari seperti sembako, namun rupanya mereka selalu tidak mampu membayar hutangnya sementara sang ibu tidak tega kalau mendengar mereka mengiba, maka ia pun memberikan izin kepada mereka untuk berhutang di warungnya. Usai mendapat penjelasan dari ibu pemilik warung maka ustadz Iman menjelaskan bahwa ia memiliki titipan sedekah sebesar 1 juta rupiah. Beliau meminta kepada ibu pemilik warung untuk menghitung siapa saja kiranya yang bisa ditolong agar terbebas dari hutang. Sang ibu pemilik warung amat senang mendengarnya. Maka ia memberikan data orang-orang susah yang kerap berhutang di warungnya. Setelah dihitung maka ada 7 nama di antara mereka yang bisa dilunaskan hutangnya dengan uang sedekah 1 juta rupiah tersebut. Dengan baca basmalah ustadz Iman menyerahkan uang sedekah Mukhlis kepada ibu pemilik warung. Sang ibu berucap syukur dan ia mengangkatkan tangan seraya berdoa kepada Allah Swt atas anugerah-Nya yang telah menggerakan hati Mukhlis, orang yang tidak dikenalnya, untuk mau melunasi hutang-hutang orang susah yang ada di warungnya. Ibu pemilik warung berjanji kepada ustadz Iman untuk memberitahukan kepada 7 nama tadi kabar gembira ini. Maka saat kesemua nama tadi mendapatkan kabar tersebut maka mereka pun bersyukur kepada Allah Swt dan mendoakan Mukhlis dengan penuh kesungguhan. ===0=== Ina, istri Mukhlis datang berkunjung ke lapas pada hari Kamis. Ada gurat kegembiraan pada wajahnya. Saat Mukhlis datang di ruang besuk, maka Ina bangkit dari duduknya dan ia tak kuasa menahan tangis. Mukhlis kaget melihat istri tercintanya menangis. Mukhlis menanyakan apa gerangan namun Ina tidak mampu menjawab apa-apa. Tubuhnya bergetar dan terlihat banyak air mata yang mengalir di pipinya. Ina mengeluarkan secarik surat berwarna putih dari tasnya. Surat itu ia serahkan kepada Mukhlis dan langsung surat itu dibaca. Tidak banyak kata dan kalimat tertulis dalam surat itu. Namun demi membaca surat tersebut, maka Mukhlis pun tertunduk dan mulai meneteskan air mata haru. “Allahu akbar.... Allahu Akbar.... Allahu Akbar.... Alhamdulillah ya Rabb.... sungguh Engkau Maha Penolong dan Maha Pemurah... Engkau tolong hamba-Mu yang lemah ini untuk keluar dari masalah” pekik Mukhlis dalam doa. Dalam surat tertanggal hari Selasa dua hari yang lalu tertulis bahwa perusahaan tempat Mukhlis berhutang menyatakan bahwa hutangnya SEBESAR 1 MILYAR RUPIAH TELAH DIHAPUSKAN! Mukhlis dan Ina saling berpegangan tangan. Mereka sungguh bahagia mendengar berita gembira ini. Berita ini sungguh membuat beban hutang Mukhlis bertambah ringan. Maka usai bertemu dan bertukar kabar, beberapa saat kemudian Ina pun berpamitan untuk pulang ke rumah. ===0=== Keesokannya adalah hari Jumat. Seluruh penghuni lapas bersiap untuk melaksanakan shalat Jum'at. Saat menanti datangnya waktu Jum'at tiba Mukhlis mengisinya dengan dzikir dan i'tikaf. Begitu adzan Zuhur dikumandangkan maka naiklah sang khatib yang tiada lain adalah ustadz Iman. Saat menyimak khutbah Jum'at yang disampaikan ustadz Iman maka air mata Mukhlis kembali menetes deras. Mukhlis mengingat perjumpaannya dengan ustadz Iman pada hari Ahad lalu dan ia teringat sedekah satu juta rupiah yang ia titipkan kepada beliau. Sungguh sedekah itu telah dibayar Allah Swt hanya dalam tempo 2 hari menjadi 1000 kali lipat. Saat shalat Jum'at usai, maka Mukhlis mendatangi ustadz Iman. Ia menyampaikan ucapan terima kasih yang berulang-ulang atas bantuan ustadz Iman menyalurkan sedekahnya. Ustadz Iman pun kembali mengucapkan terima kasih. Beliau sampaikan bahwa pemilik warung dan 7 orang yang berhutang juga turut berterima kasih kepada Mukhlis dan mendoakan. Mendengarkan penuturan ustadz Iman kembali air mata haru mengalir deras di pipi Mukhlis. Sambil terisak Mukhlis berkata kepada ustadz Iman, “Ustadz..., janji Allah Swt yang ustadz sebutkan bagi orang yang bersedekah sungguh kini telah saya rasakan. Sedekah saya kemarin dalam dua hari sungguh telah Allah bayarkan kepada saya sebesar 1000 kali lipat!” Mukhlis pun merangkul erat tubuh ustadz Iman. Kedua manusia itu tak henti-hentinya berucap hamdalah dan bersyukur kepada Allah Swt. Ada kebahagiaan yang tiada terperi di hati kedua manusia itu. Keduanya menjadi saksi atas janji Allah, bahwa masalah yang dihadapi bisa mudah diatasi asalkan kita saling menolong terhadap sesama. Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt senantiasa menolong seorang hamba, selagi sang hamba kerap menolong saudaranya.” HR.Muslim dari Abu Hurairah. Apakah Anda ingin mencoba cara ini?! Semoga Allah mudahkan jalan Anda! Amien Cahaya Langit, Bobby Herwibowo www.kaunee.com SPECIAL 'DOWN SYNDROME' KID Aku Anne seorang ibu beranak 3 dan tinggal di Jakarta. Saya ingin berbagi pengalaman dengan para orang tua yang mungkin bernasib serupa dengan saya. Aku memiliki kehidupan yang berkecukupan. Menikah pada umur yang pas dan mendapat suami yang baik dan membahagiakan. Awalnya semua jalan kehidupan berumah tangga kami lalui dengan bahagia, tawa dan canda. Hingga saat saya hamil dan kami amat berbahagia dengan kelahiran anak pertama. Bagus, itu nama yang kami berikan kepada anak pertama. Awalnya ia tumbuh dengan sempurna. Hari-hari awal hidup Bagus amat menyenangkan. Ia sudah bisa merangkak, tersenyum dan tertawa. Namun kami dapati hingga usia dua tahun lebih ia belum juga bisa berdiri untuk merayap apalagi berjalan. Selang 3 tahun dari umurnya, Allah Swt karuniakan kepada kami seorang putri cantik yang kami beri nama Yulia. Tidak sampai setahun Yulia sudah bisa berdiri dan beraktifitas layaknya anak normal. Namun tidak begitu yang terjadi pada Bagus, sang kakak. Hingga usia Bagus menginjak 4 tahun, kami dapati bahwa tubuhnya bertambah lemah. Ia tidak mampu mengangkat kepala. Perkembangan tubuhnya lamban. Maka kami pun membawa ia pergi ke sebuah rumah sakit. Seperti tersambar petir, hati saya begitu terkejut saat dokter menyatakan bahwa anak saya terkena penyakit 'down syndrome'. Awalnya saya amat marah dan kecewa! Saya bawa Bagus, anak saya ke rumah sakit lain untuk mencari 'second opinion', namun semua rumah sakit yang kami datangi menyatakan hal yang sama. Saya menjadi sedih sejak saat itu. Saya beranggapan betapa malunya keluarga kami punya anak yang berpenyakit down syndrome. Kini kami sudah punya 3 orang anak, yang terakhir bernama Adi dan berusia 6 tahun. Sedang Bagus sekarang berusia 11 tahun. Meski berusia 11 tahun, namun saya memperlakukan Bagus seperti seorang bayi. Ia tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Sehingga saya tidak bisa beraktifitas di luar rumah. Saya hanya bisa terus menemani Bagus anak saya yang 'masih bayi'. Terkadang untuk duduk dan mandi pun masih harus kami urus. Dan ia sama sekali tidak bisa terpisah dari saya. Sempat saya frustasi dan membatin mengapa Allah Swt kasih kami cobaan yang berat seperti ini. Hingga saatnya Dia Swt memberi jawaban yang mengubah persepsi penyakit menjadi anugerah! ---0--- Bersama suami, saya selalu mencari informasi dokter atau rumah sakit yang bisa menyembuhkan penyakit down syndrome. Kami tak berpikir lagi berapa biayanya. Harapan kami adalah kesembuhan bagi Bagus dan ia bisa tumbuh seperti anak normal. Seorang sahabat menyarankan kami untuk pergi ke Amerika Serikat sebab menurutnya di sana terdapat sebuah klinik terkenal yang khusus menangani anak down syndrome. Saat kami browse di internet untuk mencari informasi klinik tersebut, maka kami pun memutuskan untuk berangkat ke sana meski biaya pengobatan menghabiskan lebih dari USD 30.000 Bertiga kami berangkat ke sana dengan harapan semoga Bagus mendapat kesembuhan. Sesampainya di sana maka kami pun melakukan pendaftaran dan kami ditunjukkan untuk menemui Dr. William di lantai 4 klinik tersebut. Sedikit saya berbesar hati saat berada di klinik tadi, bahwa ternyata banyak sekali di sana terdapat anak-anak seperti Bagus. Mereka semuanya adalah anak-anak yang memiliki kelainan Down Syndrome. Wajah dan postur mereka amat mirip dengan Bagus. Wajah yang mongolism, jarak antarmata yang lebih lebar, tulang pangkal hidung yang tak menonjol, dan lidah yang sering terjulur. Saat berada di sana saya merasa 'at home' dan tidak lagi merasa malu punya anak seperti Bagus. Maka terbitlah harapan di hati saya dan suami atas kesembuhan Bagus. Kami pun menuju lift untuk membawa kami ke lantai 4 klinik. Saat kami masuk ke dalam lift, kami mendapati sepasang suami-istri tengah membawa 3 orang anak mereka. Deggg... betapa kaget saya melihat pemandangan itu!!! Masing-masing suami istri itu tengah menggendong anak mereka. seorang anak digendong oleh si suami, seorang anak lagi digendong oleh sang istri, ditambah satu anak lagi yang berada di sebuah kereta dorong. Hal yang membuat saya dan suami terkagum sekaligus takjub adalah bahwa ketiga anak mereka mengalami penyakit down syndrome seperti Bagus! Kami pun berkenalan dalam waktu yang amat singkat di dalam lift itu. Saya mengutarakan kekaguman saya sambil berkelakar, "Bagaimana kalian bisa mengurus 3 orang anak yang punya penyakit down syndrome secara bersamaan, sedang saya mengurus seorang anak saja menurut saya sudah terlalu menyusahkan!" Saya semakin takjub mendengar jawaban mereka. Mereka katakan, "Special kids are given to the special parents!" Anak-anak spesial hanya diberikan Tuhan kepada orang tua yang luar biasa!!! Subhanallah... kalimat itu begitu pendek namun amat menyentuh palung hati yang terdalam. Saya rekam baik-baik kalimat indah itu dalam benak saya. Saya pun meminta suami menyerahkan Bagus ke pelukan saya saat kami keluar dari lift. Bangga sekali saya merasa saat menggendong dan memeluk anak saya Bagus yang berpenyakit down syndrome itu. Saat menunggu panggilan masuk ke ruangan dokter William, saya duduk di ruang tunggu. Saya tatapi wajah anak saya Bagus dengan seksama. Penuh cinta saya mengajaknya bercanda. Saya katakan kepada Bagus, "Mama sayang kamu, nak...! Mama cinta kamu, nak....! Mama amat bangga punya anak seperti kamu...! Kamu anugerah Allah Swt yang spesial buat mama dan papa...!" Tak terasa di ruang tunggu itu air mata saya mengembang di ujung mata. Seolah memahami apa yang saya ucapkan, Bagus kemudian menjulurkan tangannya dan menyentuh wajah saya. Seolah mungkin ia berkata kepada saya, "Bagus juga sayang Mama...!" Ya Allah.... sungguh Engkau berikan cinta yang mendalam kepada saya sejak hari itu. Kini tidak ada Bagus yang berbeda dari anak lainnya, yang ada adalah Bagus adalah anak spesial untuk saya! Jangan ratapi nasib getir yang kau jalani. Allah Swt menyayangimu, teman! Seperti diceritakan oleh seorang sahabat. Bambu Apus, 5 Januari 2010 Cahaya Langit, Bobby Herwibowo  Momentum Iedul Qurban tahun ini membuat saya membaca berulang kali beberapa literatur tentang pengorbanan yang dilakukan Ibrahim Alaihis-salam. Saya yakin, anda sudah mengetahui hal ini. Saya mendalami makna cinta yang begitu kuat dalam hati Ibrahim As kepada Tuhannya, hingga ia rela mengorbankan apa saja yang terbaik miliknya demi mempertahankan kecintaan yang luar biasa itu. Membahas tentang pengorbanan berjuang di jalan Allah, ada satu kisah yang hendak saya sampaikan atas perjalanan hidup yang Allah hadiahkan kepada saya. Dompet Dhuafa Kaltim mengundang saya untuk berpartisipasi dalam acara yang mereka buat demi membantu saudara-saudara korban gempa bumi di Sumatera Barat pada medio Oktober lalu. Tiket sudah dipesan, acara telah dirancang, hanya menunggu hari 'H'. Tanggal yang dimaksudpun tiba. Seperti perjalanan ke luar kota sebelum-sebelumnya, saya menganggap bahwa ini adalah perjalanan dakwah biasa-biasa. Namun ternyata tidak! Pesawat dikabarkan delayed 30 menit. Sebab saya merasa lapar saat itu, maka saya pun pergi mencari makan. Begitu saya kembali ke ruang tunggu rupanya sudah sepi, dan saya diberitahu bahwa pesawat sudah menutup pintu dan hendak berangkat beberapa saat. Sedikit 'nerved', saya berargumen kepada petugas bahwa saya tidak mendengar panggilan atas nama saya atau pemberitahuan bahwa pesawat akan diberangkatkan. Setelah berupaya menghubungi pihak pesawat, petugas itu pun memberitahukan saya bahwa saya bisa naik ke pesawat. “Alhamdulillah...!” pekik saya. Andai saya tertinggal pesawat, maka tak bisa dibayangkan kekecewaan panitia penyelenggara di Balikpapan. Beberapa saat kemudian, pesawat tiba di bandara Sepinggan, Balikpapan. Saya dijemput oleh perwakilan panitia. Dalam perjalanan menuju hotel, saya menanyakan lokasi acara. Mereka memberitahukan bahwa acara digelar di masjid Istiqomah. Saya bertanya , “Apa ada jemaahnya... bukankah ini malam minggu dan acara digelar pukul 20?” Dengan santai panitia menjawab, “Tenang pak...., insya Allah jemaahnya banyak. Sudah beberapa kali masjid ini bikin acara pada waktu serupa, Alhamdulillah jemaah antusias untuk datang.” Saya sedikit terhibur mendapat jawaban itu. Rupanya benar dugaan saya, jemaah yang saya harap akan banyak hadir rupanya hanya memenuhi kira-kira seperempat dari kapasitas ruang masjid. Banyak terlihat 'space' melompong di sana-sini. Agak sedikit prihatin dengan jumlah jemaah yang ada, dan saya berpikir keras tentang target penggalangan dana panitia, maka saya pun berujar dalam hati, “Ya Allah, semoga kami mampu memberi yang terbaik di jalan-Mu!” Jujur saja, sebelum memulai menyampaikan materi, saya sedikit pesimis akan dana yang hendak digalang. Namun berulang kali saya berhenti berceramah untuk sekedar meluruskan niat Lillahi Ta'ala. Maka saat penggalangan dana pun tiba. Saya melihat mereka semua antusias mengulurkan tangan memberi bantuan. Namun lagi-lagi karena jumlah audiens yang sedikit saya merasa khawatir akan jumlah dana yang tidak akan menyentuh target. Alhamdulillah... dana terkumpul beberapa belas juta rupiah malam itu, namun jumlah itu saya yakin masih jauh dari target panitia. Hanya kepada Dia Yang Maha Agung, kita sepantasnya berserah diri. Malam itu bagi saya bukanlah sebuah prestasi dakwah yang menggembirakan. Saya sedikit prihatin dan kecewa. “Mengapa hanya segini rezeki yang Allah karuniakan dalam majelis kita?” batin saya. Namun rupanya kekhawatiran itu segera dijawab Allah Swt. Seorang panitia datang kepada saya memberitahukan bahwa ada seorang jemaah hendak minta waktu untuk berbicara. Setelah saya bersedia maka jemaah tersebut dipersilakan dan kami pun duduk berdua di karpet masjid. Dia adalah seorang anak muda berusia 27 tahun, sebutlah namanya Hakim. Dari wajahnya saya melihat ada sinar yang Allah pancarkan ke dalam hatinya. Ia mengajak bicara beberapa menit sebagai pembuka. Saat saya tanya apa keinginannya, maka Hakim berkata, “Tadi bapak dalam ceramah menyampaikan berulang-ulang untuk memberi yang terbaik di jalan Allah.” “Ya, betul!”jawab saya. Hakim melanjutkan, “Tadinya saya ingin memberikan hape saya ini sebagai infak...” Kalimat dari mulutnya terputus. Ada jeda beberapa detik bagi Hakim untuk menyambung kalimatnya. Saya pun penasaran menunggu selama itu. “Namun setelah pikir-pikir, sepertinya saya urung memberi hape ini” jelas Hakim. “Lalu apa yang hendak Anda sampaikan kepada saya?” saya bertanya kepadanya. Hakim pun menjawab, “Setelah saya berpikir ulang, maka saya mendapati bahwa harta terbaik yang saya miliki bukanlah hape, tapi saya mohon bapak menerima ini sebagai infak dari saya!” Maka Hakimpun menjulurkan tangannya kepada saya seolah ingin berjabat, dan saya pun menyambut tangannya yang terulur. Namun saya merasa ada sebuah benda cukup besar yang terselip antara telapak tangan kami. Saya bertanya kepada Hakim, “Apa ini?” Dia menjawab, “Itu harta terbaik yang bisa saya infakkan, pak!” Saya pun membuka telapak tangan saya. “Subhanallah...!” saya terperanjat. Kini ditelapak tangan saya ada sebuah kunci mobil. Saya terkagum, terpesona, dan sesaat terbungkam. Betapa terperanjat hati saya sehingga bola mata terasa hendak meloncat saat menerima infak sebesar ini. Seketika itu juga hati saya berbunga sebab merasa terhibur dengan anugerah luar biasa yang Allah berikan kepada saya. Dana yang telah digalang malam itu yang bernilai hanya beberapa belas juta rupiah, rupanya dilengkapi Allah Swt dengan sebuah mobil milik Hakim yang ia infakkan dengan harga saya yakin lebih dari 100 juta rupiah. Hakim, 27 tahun memberikan harta terbaik yang ia miliki untuk membantu saudara-saudaranya yang menjadi korban gempa di Sumatera Barat. Ia berkorban dengan sepenuh hati dan kesadaraan penuh. Meski mungkin kini ia belum punya mobil lagi, namun saya yakin hatinya sudah setenang nabiyullah Ibrahim Alaihis-salam saat hendak mengorbankan anaknya tercinta. Ya, ketenangan dan kedamaian yang diberikan kepada Ibrahim As dari Allah Swt yang kagum atas pengorbanan hamba-Nya.  "Assalamu'alaikum….!" terdengar suara Toyyib menyapa seorang petugas kebersihan jalan. Sang petugas kebersihan tidak menjawab salam, boleh jadi karena bisingnya lalu lintas pagi hingga ia tiada mendengar salam. Toyyib turun dari motornya, ia buka dompet mengambil selembar uang dan menghampiri petugas kebersihan itu. Sekali lagi ia mengucapkan salam dari jarak yang dekat, maka petugas kebersihan itu pun mengangkatkan wajahnya lalu membalas salam. Sesegera mungkin Toyyib memberikan selembar uang yang kini sudah terlipat kecil ke tangan petugas kebersihan. "Apaan ini, mas?" tanya petugas kebersihan keheranan. "Pokoknya buat bapak saja, mohon doakan saya ya pak!" balas Toyyib *** Toyyib adalah seorang mahasiswa di sebuah institut di Jakarta Selatan. Hari itu ia akan menghadapi ujian di kampusnya. Materi yang akan ia hadapi adalah materi yang tiada ia suka. Susah sekali dicerna oleh otaknya. Bahkan semalam pun ia belajar sampai larut, namun hanya sedikit bagian yang bisa dipahami, belum dikuasai apalagi dihapal! Pokoknya hari itu ia pasrah total atas ketentuan Allah Swt. Meski belajar sampai larut, pukul setengah empat pagi ia bangun kembali dari tidurnya. Materi ujian yang belum ia kuasai rupanya membuat tidurnya terusik. Kesempatan bangun di penghujung malam itu sengaja ia gunakan terlebih dahulu untuk menghadap Allah Swt dalam tahajjud sebelum berkutat dengan diktat yang menjemukan. Alhamdulillah, Toyyib pun mendapatkan ketenangan usai tahajjud. Pikiran yang jernih usai bangun tidur dan tahajjud ia sempatkan untuk meneliti satu demi satu bagian pelajaran yang belum ia pahami. Namun sayangnya, pelajaran itu masih tetap sulit ia rasakan untuk dicerna. Bahkan hingga waktu Shubuh menjelang pun hanya sedikit yang mampu ia pahami dari pelajaran. "Ya Allah…, tolong aku!!!" batin Toyyib *** Shalat Shubuh ia lakukan berjamaah di masjid Adz Dzikri di lingkungan rumahnya. Udara pagi yang bersih membuat batin Toyyib yang resah menjadi bertambah tenang. Ia bertekad usai shalat Shubuh dia tidak akan tidur lagi. Ia akan berusaha untuk menguasai materi ujian meski sesusah apapun akan ia hadapi. Masih ada beberapa jam ke depan untuk bisa ia gunakan belajar mempersiapkan materi ujian. Setengah jam ia tatap lembar demi lembar buku diktat, namun tetap saja kebekuan otak belum juga mencair. Amat sulit Toyyib rasakan menguasai disiplin ilmu yang satu ini. Tiba-tiba ia teringat biasanya pukul 5 pagi ada kajian ceramah di berbagai channel radio. Ia nyalakan radio dan ia coba mencari siaran ceramah pagi dari ustadz-ustadz yang mengudara. Rupanya Allah Swt menuntun tangan Toyyib untuk mencari gelombang yang benar. Di sana terdengar suara seorang ustadz yang sedang menjabarkan ilmu agama. Ustadz tersebut tengah menjelaskan perbedaan antara ikhlas dan ridha. Hal ini direkam jelas oleh benak Toyyib yang kebetulan sedang belajar mempersiapkan ujian sambil mendengarkan ceramah itu. "Yang namanya ikhlas itu di depan…. Kalau sudah kejadian itu bukan ikhlas namanya tapi ridha! Seperti dalam shalat kita gunakan kalimat Lillahi Ta'ala, nah… yang ini ikhlas. Tapi kalau sudah dagang terus hasilnya rugi atau untung maka itu namanya adalah ridha" suara sang ustadz menjelaskan konsepnya di radio. Toyyib menangkap ide yang disampaikan ustadz penceramah, dan salah satu manfaat ikhlas dalam setiap amal adalah Allah Swt akan mempermudah pelaksanaan amalan tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam ceramah sang ustadz. *** Hingga pukul 7, Toyyib masih terus berkutat dengan diktat yang belum juga dapat ia taklukkan. Ia pun bergegas sarapan, mandi dan terus berangkat ke kampus untuk ujian. Pukul 8 lebih sedikit ia sudah pergi meninggalkan rumahnya dengan berkendara motor. Dalam perjalanan ke kampus pun bayangan kegagalan ujian terus menghantui. Dada dag-dig-dug. Pikiran pusing tak terkonsentrasi. Namun ia jalani saja motornya menuju kampus. Teringat akan ceramah yang ia dengar di radio tadi pagi, hatinya tergerak untuk bersedekah kepada seseorang yang membutuhkan. Ternyata pagi itu para pengemis di Jakarta sulit ditemukan sepanjang jalan. Hingga akhirnya dari kejauhan Toyyib memandang petugas jalanan yang tengah menyapu jalan mengenakan pakaian dengan warna terang. Toyyib berniat bersedekah kepada penyapu jalan itu. "Assalamu'alaikum...." suara Toyyib menyapa. Ia berikan sebagian hartanya kepada petugas kebersihan jalan itu seraya berharap didoakan semua urusan. Petugas kebersihan itu terheran-heran menerima sedekah. Namun Toyyib tidak mengetahui apakah ia sudah mendapatkan doa dari petugas kebersihan itu atau belum? Toyyib melanjutkan perjalanannya menuju kampus. "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." QS. 92 : 5-7 Subhanallah... kedamaian hati usai berbagi kepada sesama memberi nuansa indah tersendiri di hati Toyyib. Ia rasakan hari itu menjadi penuh berkah, dan segala penat kejenuhan yang ia alami seolah tersingkirkan. Padahal, ia masih belum siap menghadapi materi ujian hari itu. *** Masih ada setengah jam kira-kira saat ia tiba di kampus sebelum masuk ruang ujian. Memanfaatkan waktu yang ada sekali lagi ia buka diktat untuk menguasai pelajaran, namun hasilnya sama saja!! Tapi Toyyib berusaha tenang. Di luar dugaan ada seorang kawan yang membawa kertas soal ujian dari universitas lain, namun fakultas jurusan dan dosennya adalah sama. Kertas ujian dari universitas tetangga pun dibahas oleh Toyyib dan beberapa temannya. Semua soal yang tertera mereka cari jawabannya. Tapi, apakah bisa kertas soal universitas tetangga itu diandalkan? Hanya kepada Allah Swt Toyyib berserah... Waktu ujian di mulai. Setiap mahasiswa sudah duduk di bangku mereka. Suasana hening tercipta di dalam ruang. Tidak sedikit terlihat mahasiswa yang berdoa berharap petunjuk Allah Swt agar mudah menyelesaikan ujian. Salah satu dari mereka yang berdoa adalah Toyyib. Rasa khawatir itu masih tetap ada di hati Toyyib, hingga ia menerima lembar soal ujian dari pengawas, maka seulas senyum lebar pun terbit di wajahnya. Ia heran.... kagum.... terpesona!!! Seolah tak percaya membaca lembaran soal, Toyyib pun membalikkan badan ke arah teman-teman yang tadi berdiskusi sebelum masuk ruang ujian. Semua kawannya mengacungkan jempol tanda kemenangan! Toyyib tersenyum mendapati bahwa lembaran soal yang ia terima persis sama dengan yang ia pelajari bersama-sama rekannya dari universitas sebelah. "Kok bisa sama ya...?" gumam Toyyib. Tanpa pikir panjang ia menyelesaikan semua soal. Tidak perlu dahi berkernyit dan memeras otak, semua soal ia lahap dengan hapalan yang masih 'fresh' di kepala. Tidak lama ia mengerjakan soal-soal itu, ia pun meninggalkan ruang ujian tanda usai menuntaskan. Di luar ruangan, ia bersyukur kepada Allah Swt yang telah membantu, menolong dan menuntunnya untuk mudah menghadapi ujian. Teringat ceramah ustadz di radio tadi pagi yang mengatakan, "Ikhlas itu di depan dan akan mempermudah urusan!" Kini Toyyib sungguh telah merasakannya. Hidup itu seperti ujian, maka bisakah kita ikhlas di depan?! "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." QS 22 : 70 Salam, bobby herwibowo 0817200456 www.kaunee.com  | FLU ARAB | Feb 15, '09 9:37 PM for everyone |
 Kusuma adalah seorang pebisnis sukses yang kini berusaha menjalani hidup dalam keridhaan Allah Swt. Ia begitu khusyuk dalam beribadah, dan membagi hidupnya pada porsi yang seimbang antara dunia dan akhirat. Pada perjalanan di atas pesawat dari Jakarta menuju Jeddah, Allah Swt berkehendak mendudukkan kami di dua kursi bersebelahan. 9 jam perjalanan, banyak obrolan yang kami bincangkan salah satunya adalah penuturan Kusuma berikut ini: "Pernah dalam ibadah haji yang sebelumnya saya lakukan…" buka Kusuma memulai kisahnya. Ia kisahkan bahwa ia menggunakan travel yang paling mewah di Indonesia. Layanan travel di Indonesia memang agak unik, seharusnya orang bila bayar lebih mahal tentunya akan lebih lama tinggalnya di Tanah Suci. Tapi kok semakin mahal biaya ONH (Ongkos Naik Haji), malah lebih cepat pulangnya. Datang belakangan, pulang duluan, begitulah travel ONH Plus di Indonesia. Dan masa tinggal di dua kota suci Mekkah dan Madinah bisa dihitung dengan jari saja. Kusuma menyampaikan bahwa pada haji kali itu yang dilakukannya, ia terkena penyakit flu. Namun flu ini bukan flu biasa seperti yang diderita oleh kebanyakan orang. Flu ini adalah FLU ARAB! Mengapa begitu, sebenarnya itu adalah kelakar dokter rombongan travel itu saja, tandas Kusuma. Selama berada di kota suci Mekkah selama lebih kurang 5 hari, saat itu Kusuma bersama rombongan menginap di hotel Hilton yang jaraknya begitu dekat dari Masjidil Haram. Namun ia sekali pun belum pernah shalat berjamaah di Masjidil Haram yang pahalanya 100 ribu kali lipat hanya karena alasan flu yang menderanya. "Flu itu amat sakit saya rasakan..." jelas Kusuma. "Kepala seperti dibor sakit luar biasa, dan dari hidung ini (maaf) senantiasa keluar cairan berwana pink sebab bercampur darah. Celakanya..., cairan dari hidung itu tidak bisa terkontrol. Jadi saya gak kuat kalau ikut shalat berjamaah di Masjidil Haram, apalagi biasanya para imam selalu rukuk dan sujud dalam tempo yang lama..." Itulah yang diceritakan Kusuma tentang penyakit flu yang ia alami dan membuatnya tidak mampu hadir shalat berjamaah ke Masjidil Haram. Tapi itulah manusia, bila demi menjawab panggilan Allah Swt ada saja alasan yang ia utarakan. Namun anehnya untuk makan tiga kali ke restoran ia bisa hadir setiap harinya. Kali itu, ia makan siang di restoran hotel. Ia berjalan dengan kepala terasa begitu berat. Sudah berbagai macam obat flu dari Indonesia ia konsumsi namun anehnya penyakit flu ini belum juga pergi. Di restoran ia menghampiri dokter rombongan untuk mengeluhkan sakitnya. "Dokter apalagi yang harus saya lakukan..., penyakit flu ini membuat hidup saya sulit!" adu Kusuma. Dokter rombongan yang sudah menangani berkali-kali penyakit Kusuma ini menukas, "Pak Kusuma, saya rasa semua obat flu dari Indonesia gak akan mempan untuk mengusir penyakit bapak. Flu ini adalah Flu Arab, dan mungkin hanya obat flu produksi Arab Saudi saja yang bisa mengatasinya!" "Lalu dimana saya bisa membelinya pak dokter?!" tanya Kusuma. "Di bawah hotel ada beberapa apotik yang bisa bapak datangi. Tanyakan saja ke sana dan insya Allah obat yang saya maksud akan mudah bapak beli!" jelas sang dokter. Kusuma menuruti anjuran dokter. Waktu saat itu menunjukkan setengah jam lagi adzan Ashar akan berkumandang. Sebab tak kuat menahan sakit, ia paksakan juga untuk pergi ke apotik membeli obat. Sekali lagi keanehan terjadi...! Pergi ke apotik untuk beli obat ia mampu, namun untuk hadir ke masjid untuk shalat berjamaah selalu saja ada alasan. Tidak sulit bagi Kusuma untuk mencari apotik di bawah hotel Hilton. Lokasi apotik itu terletak di sisi kanan luar hotel Hilton yang bersebelahan dengan hotel Grand Zamzam. Kusuma baru saja menyerahkan uang pembelian obat flu Arab. Kini badannya berbalik dan hendak menuju kamar hotelnya. Namun seperti pemandangan yang amat biasa didapati pada musim haji bahwa sekitar setengah jam sebelum waktu shalat maka akan didapati manusia yang menyebut dalam jumlah ribuan bahkan jutaan yang datang menuju rumah Allah untuk menghadiri shalat berjamaah. Saat Kusuma berbalik badan hendak pergi menuju kamarnya di hotel, saat itulah Allah Swt menunjukkan sebuah kebesaran-Nya. Tiba-tiba dari arus manusia yang menyemut menuju masjid tadi ia dapati seseorang dari Asia Selatan (Bangladesh, Pakistan, India, Sri Lanka, dan negeri-negeri sekitarnya). Pria ini begitu bersemangat pergi menuju Masjidil Haram. Namun yang membuat Kusuma terperangah adalah bahwa pria itu berjalan dengan dua tongkat yang menopang langkahnya. Kedua kakinya telah tiada, namun seolah hal itu bukanlah halangan baginya untuk hadir ke Masjidil Haram demi menjawab panggilan Tuhannya. "Melihat manusia seperti itu yang berjalan menuju masjid, seolah saya mendapat teguran keras dari Allah... Seolah Allah Swt berkata kepada saya: 'Kusuma, tidakkah kau perhatikan hamba-Ku itu yang tiada memiliki kaki itu?! Ia masih mau menjawab panggilan-Ku dan datang ke rumah-Ku. Engkau hanya terkena penyakit flu saja, namun itu kau jadikan alasan untuk tidak datang memenuhi panggilan-Ku...!" jelas Kusuma kepada saya. "Saya terpana pak..., dan saya langsung bergegas naik ke hotel menuju kamar. Obat flu yang saya beli saya letakkan di atas meja. Saya segera berwudhu di kamar mandi. Saat memasukkan air ke dalam hidung, saya menghirupnya sedalam mungkin hingga terasa perih. Saya pun langsung menyemburkan semua cairan yang ada dalam hidung. Subhanallah...., rasanya langsung plong. Selepas itu saya langsung bergegas pergi ke masjid. Saya shalat tahiyyatul masjid di sana dan saya bertobat kepada Allah Swt mohon ampun. Rupanya selama ini yang sakit bukanlah fisik saya, yang sakit parah ternyata saya sadari adalah hati saya. Saya berjanji kepada Allah Swt sejak saat itu untuk tidak meninggalkan shalat berjamaah selagi saya tidak udzur (berhalangan)" jelas Kusuma. Rupanya Kusuma mendapatkan sebuah pelajaran besar mengenai shalat berjamaah dari Allah Swt. Dan ketahuilah bahwa shalat berjamaah di masjid tepat waktu hukumnya hampir wajib atau setidaknya adalah sunnah muakkadah bagi pria yang sudah baligh. Tapi Anda tidak perlu menunggu datangnya pelajaran serupa khan untuk tergerak hadir shalat berjamaah?! Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya tidak mempunyai seorang penuntun yang mengantarkanku ke masjid”. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberi keringanan baginya untuk shalat di rumahnya maka Rasulullah memberikannya keringanan. Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak kembali, Rasulullah memanggilnya lalu berkata: “Apakah Engkau mendengar panggilan (adzan) untuk shalat?” ia menjawab “benar”, maka Rasulullah bersabda: “Penuhilah panggilan tersebut.” Salam, Bobby herwibowo 0817200456 www.kaunee.com  AKU INGIN BERSEDEKAH Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan fasilitas yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya berlipat-lipat dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional lainnya. Tunjangan berupa rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun diberikan. Beberapa kali saya berkunjung ke sana maka saya hanya berkomentar, "Betapa beruntungnya mereka yang tinggal dan bekerja di tempat ini!" Mereka hidup di sebuah komplek yang terisolir dari dunia Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh berdiri dan lengkap dengan petugas keamanan yang membuat komplek perumahan itu terisolir dari dunia luar. Penghasilan besar yang mereka dapat, -mungkin sebab sulit untuk mendapatkan mustahik-, maka kewajiban zakat dan sedekah pun barangkali tak tersalurkan. Namun meski demikian hal yang menjadi hak Allah adalah tetap menjadi hak-Nya. Dimana suatu saat Dia pun akan menagihnya. *** Sore itu saya diminta bersilaturrahmi dengan sebuah majlis taklim kaum ibu di sana. Tema yang diminta membuat saya berpikir keras untuk mencari referensinya. BEROBAT DENGAN SEDEKAH!!! "Darimana saya harus memulai...?" saya membatin. Alhamdulillah atas izin Allah Swt ceramah pengantar yang saya berikan terasa nikmat. Jangankan untuk mereka kaum ibu yang mendengarkannya, saya sendiri saja merasakan kenikmatan itu. Rupanya Allah Swt memberi keberkahan pada majlis kami saat itu. Tanpa terasa saya dapati beberapa 'ilmu ladunni' yang Allah berikan. Sehingga saya belajar saat mengajar. Menjadi mengerti bersama orang-orang yang mencari pemahaman. Allah mewariskan ilmu yang diketahui seseorang, asalkan ia mengamalkan ilmu yang sudah pernah ia ketahui. (Muhammad Saw) Usai pembicaraan kurang lebih sekitar setengah jam, maka saya menawarkan kepada peserta majlis untuk bertanya dan berdialog. Di sana rupanya ada seorang ibu berusia lebih dari 40 tahun, sebutlah namanya Reni. Tiba-tiba ia mengacungkan tangan dan ternyata ia bukan hendak bertanya akan tetapi ia ingin berbagi pengalaman kepada semua peserta yang hadir. Reni pun memulai kisahnya: Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang dokter terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya. Sepulangnya dari Balikpapan, Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar darah dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin. Apalagi bila ia bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu bersimbah darah. Ia panik dan kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun kembali lagi ke Balikpapan bersama suaminya untuk berobat ke dokter Yusfa. Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka yang terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan Reni! Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua hari sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk mengkonsultasikan penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil oleh dokter Yusfa hanyalah mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya bisa pasrah dan berharap pertolongan Allah Swt atas musibah ini. *** Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah ringkih, rumah tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami tidak bisa bekerja tenang sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya ada sebuah cobaan besar yang sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan suaminya. Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari masalah ini. Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka *** Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. Ia bawa sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan untuk bayar biaya pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di sana yang ingin ia wujudkan. Cita-cita itu adalah, "AKU INGIN BERSEDEKAH!" Sejumlah uang itu pun ia masukkan ke dalam tas tangan yang Reni bawa. *** Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan. Setibanya di bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih dipapah oleh sang suami. Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di dalam ruang bandara. Di dalam hati Reni berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, datangkan untukku seorang pengemis yang bisa menerima sedekahku. Izinkan aku untuk bersedekah di hari ini!" Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia amat berharap untuk bisa bersedekah kali itu. Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah, tiba-tiba ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan tangan tanda minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah ijabah doa dari Allah Swt. Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas tangannya. Sejumlah uang yang sudah disiapkan ia berikan ke tangan pengemis itu. Maka pengemis dan suami Reni melongo melihat jumlah uang yang Reni sedekahkan. Reni pun melanjutkan langkahnya bersama suami dan kemudian mereka masuk ke dalam sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit tempat dokter Yusfa berpraktek. *** "Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?!" tanya sang suami. Reni menjawab dengan yakin, "Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt menyembuhkan penyakitku, Pa!" Mendapati jawaban seperti itu suami Reni tidak banyak mendebat. Memang di saat-saat seperti ini, hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan mereka. *** Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa atas penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. "Hingga saat ini, saya belum tahu pasti apa penyebabnya" jelas dokter Yusfa. Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan. Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni hanya bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt tetapkan pada dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk membuat masakan ringan. Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak beres di perutnya dan ia pun ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang air itu seperti tak terkendali... Hingga Reni harus berlari sebab khawatir ia tak kuasa menahannya. Atas izin Allah Swt ia kini sudah berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja yang sempat ia buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan. Rupanya ada segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan ternyata ia tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya yang membuat Reni terdesak untuk buang air. Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah kantong plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni berpikir bahwa ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda aneh ini. *** Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia seperti biasa pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi kali itu, seperti biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif sama sekali. Hampir saja Reni putus asa dengan keadaan ini. Namun tiba-tiba ia teringat akan kejadian aneh kemarin pagi. Lalu ia pun merogohkan tangannya ke dalam tas dan mencari-cari plastik kecil berisi segumpal daging penuh darah. Ia keluarkan plastik kecil itu dan ia sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian aneh kemarin pagi itu diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa. Dokter Yusfa menerima plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda bahwa ia berpikir keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, "Ibu dan bapak mohon tunggu sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium untuk memeriksakan hal ini!" Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya berharap bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira untuk mereka. *** Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya berlari, bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak dengan nada keras, "Alhamdulillah bu Reni.... Alhamdulillah....!!! Saya baru mengerti rupanya pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami... dan benda ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya hanya mau bertanya bagaimana cara kanker ini bisa gugur dengan sendirinya...?!" Subhanalllah.... rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah sebuah kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari dokter Yusfa tak mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya mampu bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga untuknya setelah penantian yang cukup lama. Akhirnya pendarahan pun terhenti begitu saja, dan rupanya pertolongan Allah Swt tiba setelah Reni bersedekah dengan sejumlah harta yang sudah ia cita-citakan. "Sembuhkan penyakit kalian dengan cara sedekah. Lindungi harta yang kalian miliki dengan zakat." HR. Baihaqi Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan. Apakah anda pernah mengalaminya?! Salam, Bobby Herwibowo www.kaunee.com 0817200456  Sebuah mushalla rencananya hendak dibangun di sebuah perumahan di daerah Cibinong, Bogor. Malam itu awal bulan Sya'ban beberapa tahun yang lalu para penghuni perumahan bertekad ingin menjalani shalat Tarawih bersama di mushalla yang akan mereka bikin. Semua warga dikomandani pak RT tengah bermusyawarah. Satu kata bulat, "Kita harus punya mushalla saat bulan puasa tahun ini menjelang!" Itulah cita-cita mulia mereka semua. Dan masing-masing mereka berinfaq dan berwakaf di jalan Allah dengan harta terbaik yang mereka miliki. Terdengar suara pak RT menanyakan satu per satu warga yang hadir, "Pak anu mau nyumbang berapa..., bapak fulan mau sedekah berapa....?" Lalu setiap warga yang hadir dengan antusias menjawab dengan harta yang hendak mereka sumbangkan. Ada yang berinfak dalam ratusan ribu rupiah, juga ada yang berinfak dalam jutaan rupiah. Sebagian mereka ada juga yang memberikan dalam bentuk material bangunan. Semua mereka seolah berlomba memberikan harta terbaik yang mereka miliki untuk membangun rumah Allah Swt. Semua terlihat begitu antusias untuk membangun mushalla di lingkungan mereka dalam tempo kurang dari sebulan. Malam itu juga ada seseorang yang bernama Arif yang berkomitmen untuk menyumbang seluruh lantai keramik yang diperlukan mushalla. Itulah yang ia janjikan kepada pak RT dan seluruh peserta rapat. Sengaja ia menyumbang lantai keramik, sebab ia beranggapan bahwa setiap orang akan menggunakannya untuk berdiri dan sujud oleh karena itu akan mendapat pahala yang lebih banyak dari material bangunan lainnya. Setidaknya itulah anggapannya! "Saya insya Allah mau menyumbang semua lantai keramik yang diperlukan mushalla ini!" seru Arif. "Apakah semua lantai keramik atau sebagiannya saja, pak Arif?" tanya ketua RT menegaskan. "Semuanya insya Allah, pak!" tandas Arif. Arif tidak khawatir untuk menutupi sumbangan seluruh lantai keramik mushalla. Di benaknya esok pagi ia akan meminta orang tuanya, neneknya, sepupu, paman, bibi dan seluruh saudaranya untuk turut menyumbang. "Insya Allah bila dijinjing ramai-ramai, tidak akan ada beban yang berat!" gumamnya. Benar juga... begitu Arif menghubungi seluruh kerabatnya, mereka semua bersedia turut menyumbang pembelian lantai keramik mushalla. Hati Arif pun tenang. Ia senang telah bisa menyumbang dan lebih senangnya lagi ia dapat mengajak keluarganya untuk melakukan kebaikan di jalan agama ini. *** Bulan Ramadhan 7 hari lagi akan menjelang. Bangunan mushalla atas izin Allah sudah rampung kurang lebih 65%. Namun untuk bisa dipakai shalat, setidaknya harus sudah berlantai hingga orang-orang akan merasa nyaman saat berdiri dan sujud. Maka malam itu adalah rapat kesekian kalinya digelar ketua RT bersama panitia pembangunan mushalla. Dalam rapat itu, Arif ditanya tentang kapan lantai bisa dikirimkan ke mushalla. Dengan tenang ia berujar, "Paling lambat lusa, saya akan kirim lantai tersebut!" Namun apa yang terjadi saat ia menghubungi satu per satu keluarga yang sudah berjanji untuk menyumbang. Sungguh aneh, semua keluarga yang berjanji sepertinya amat kompak dalam satu alasan. Mereka semua BOKEK, alias lagi gak punya uang! "Celaka...!" keluh Arif. Padahal ia sendiri pun sedang tidak punya duit. Bagaimana ia bisa memberi jawaban atas hal ini kepada warga lingkungannya. Padahal Ramadhan akan tiba sebentar lagi. Tidak ada uang yang bisa ia gunakan untuk membeli keramik, namun ada beberapa kartu kredit di dompetnya yang dapat ia gunakan. Saat hendak menggunakannya terbersit di benaknya wajah angker sang istri berkata mengancam, "Awas ya kalau kamu berani pakai kartu kredit lagi. Aku akan minta cerai!!!' Ya, Arif meski bekerja di sebuah bank swasta namun ia adalah orang yang susah menjaga syahwat dalam penggunaan kartu kredit. Sering kali rumahnya disatroni debt-collector tak bermoral yang bicara kasar bahkan mengancam di rumahnya. Istri dan anak-anak Arif sudah tidak kuat dengan teror para debt-collector. Karena itu ia pernah diancam oleh sang istri dengan ultimatum tuntutan cerai. Kini Arif berada di dua ujung tanduk. Antara membeli keramik mushalla dengan kartu kredit & ancaman cerai dari sang istri. Setelah menimbang sebaik mungkin, ia bulatkan tekad untuk membeli lantai keramik. "Urusan masalah kartu kredit, itu urusan nanti!" gumamnya. Lalu ia pun pergi ke kawasan Percetakan Negara, Jakarta untuk memilih lantai keramik yang cocok. Usai ia memilih lantai keramik, ia pun menggesek kartu kreditnya dengan total tagihan Rp. 2,8 juta. Tak lupa ia mengucap bismillah. Maka Arif kini bersedekah lantai keramik di jalan Allah meski dengan cara berutang lewat kartu kredit. *** Jelang Ramadhan pun ada agenda keluarga yang sudah dirancang oleh Arif. Ia ingin tahun ini dapat mudik ke kampung halaman dengan berkendara mobil. Hari itu ia memberanikan diri datang ke manager SDM tempatnya bekerja sambil berkata dengan penuh semangat, "Pak boleh gak saya mengajukan permohonan kredit mobil?!" Sayangnya, Arif mengajukan permohonan itu pada momen yang tidak tepat. Awal Ramadhan itu di perusahaannya sedang ada rasionalisasi pegawai besar-besaran. Sebuah langkah yang amat pahit dialami oleh tim SDM, sebab dari atas mereka mendapat tekanan. Sedangkan dari para pegawai di bawah mereka mendapat kecaman. Dalam kondisi tim SDM sedang pusing, Arif malah mengajukan kredit mobil. Dengan sengit manajer SDM itu berkata, "Tidak ada fasilitas seperti itu saat ini. Anda tidak paham ya bahwa kami sedang amat sibuk?!" Mendapat tanggapan seperti itu, maka Arif pun beringsut. Namun mungkin ini adalah balasan Allah Swt setelah sedekah lantai keramik itu sudah digunakan oleh warga perumahan untuk lebih dari seminggu. Siang itu usai shalat Zhuhur dan mendengarkan kuliah agama di mushalla kantor, Arif kembali masuk ke ruang kerja. Pesawat telpon di mejanya berdering. Ternyata di sana adalah suara manager SDM yang memintanya datang segera. Arif pun datang. Sesampainya di ruangan manager SDM ia disuruh menunggu di ruangan meeting. Sampai saat itu Arif belum tahu ada pasal apa manager SDM memanggilnya. Arif berprasangka buruk, "Mungkinkah aku termasuk karyawan yang akan dirumahkan?" lamunnya. Lama ia menunggu hingga akhirnya sang manajer SDM datang ke ruang meeting. Di tangannya ada sebuah folder berisikan banyak berkas. Folder itu dibanting di atas meja, dan Arif terkejut mendengar folder itu dibanting. Sang manajer SDM itu kini sudah duduk berseberangan dari Arif. Ia membuka berkas yang ada di dalam folder lalu ia dapatkan secarik kertas yang bentuknya seperti kertas cheque. Dengan cara yang tidak sopan, selembar kertas kecil itu dilemparkan ke arah Arif dan ia pun menangkapnya. "Surat apa ini, Pak?!" tanya Arif. Dibenaknya ia masih menduga bahwa ia bakal di-PHK dan ini adalah surat pemberitahuannya. "Baca saja dan jangan banyak tanya!" bentak manajer SDM. Arif membaca selembar kertas itu yang ternyata adalah sebuah voucher pembelian sebuah mobil. Di dalamnya terdapat nama lengkap Arif, nomor induk kepegawaiannya dan sebuah nominal sebesar Rp 60 juta. Voucher pembelian mobil itu ditandatangani oleh Direktur Operasional. Usai membaca barulah Arif mengerti bahwa kertas itu ada sebuah persetujuan direktur operasional atas fasilitas kredit mobil untuk dirinya. Namun hal yang tidak ia mengerti adalah mengapa sikap manajer SDM menjadi garang seperti ini? "Saya paling tidak suka bila pak Arif main belakang seperti ini...!!! Saya khan sudah bilang kepada bapak bahwa perusahaan tidak menyediakan fasilitas mobil untuk karyawan dalam masa-masa seperti ini, lalu kenapa bapak bicara langsung kepada direktur operasional...? Itu sama saja mencoreng reputasi saya!!!" Arif hanya terdiam mendengar celotehan sang manajer. Rasanya ia belum pernah menceritakan hal ini kepada siapapun selain kepada manajer SDM, apalagi sampai menghadap direktur. Namun ia gembira dalam hati sebab ia membayangkan bahwa lebaran ini ia dapat mudik ke kampung bersama keluarga dengan mobil baru. Terserah manajer SDM apakah dia mau marah atau tidak yang penting Arif sudah mendapatkan voucher pembelian mobil di tangannya. *** Sore itu Arif pulang menuju rumahnya di Cibinong dengan hati penuh kegembiraan. Sesampainya di rumah kira-kira pukul setengah enam sore. Ia bernyanyi riang dan terus bernyanyi. Ia tidak masuk ke kamar untuk berganti pakaian namun bahkan ia duduk-duduk di ruang tamu. Ada gelagat yang tidak biasa sepertinya pada diri Arif, hingga istrinya pun menanyakan ada apa gerangan. Arif masih terus bernyanyi gembira sambil mengeluarkan dari tas kerja secarik kertas voucher pembelian mobil itu lalu ia letakkan di atas meja. "Apa itu, Pa?" tanya sang istri. "Baca saja sendiri!" tukas Arif sambil terus bernyanyi. Istrinya pun membaca voucher itu. Namun tidak seperti dugaan Arif, sang istri tidak terlihat gembira membacanya. Bahkan sang istri pergi ke arah lemari dan mengambil secarik kertas. Bila tadi Arif meletakkan secarik kertas di atas meja. Kini sang istri pun melatakkan secarik kertas pula di atas meja. "Apa itu, Ma?!" Arif balik bertanya. Sang istri menukas dengan ketus, "Baca saja sendiri!!!" Ternyata itu adalah surat tagihan penggunaan kartu kredit. "Celaka!" gumam Arif. Akhirnya dia ketahuan oleh sang istri telah menggunakan kartu kredit untuk pembelian lantai mushalla. Ia amat takut sekali bila sang istri menuntut cerai. "Ayo cepat buka...!" sang istri berkata dengan suara meninggi. Arif hanya diam tak berkutik, sungguh ia amat merasa takut. Tidak sedikit pun gurat kebahagiaan tersisa di wajahnya. Dengan perlahan ia buka amplop tagihan kartu kredit itu dan kemudian ia baca seluruh isi surat. Namun anehnya, ia tidak mendapati tagihan senilai Rp2,8 juta atas pembelian lantai keramik!!! Seolah tidak percaya, ia ulangi membaca dan tetap saja ia tidak mendapatkan nilai tagihan atas lantai keramik!!! "Subhanallah...., kok bisa gak ada ya?" Arif berteriak keheranan. Ia pun menelpon pihak bank dan lagi-lagi anehnya bank tidak membaca pada data mereka bahwa Arif melakukan transaksi sebesar Rp 2,8 juta. *** Itulah kisah yang Arif sampaikan kepada saya bahwa ia telah menuai pertolongan Allah Swt untuk pembelian mobil, namun apa yang ia sumbangkan untuk rumah-Nya dengan cara berhutang rupanya tidak dianggap demikian oleh Allah Swt. Demikianlah sebuah kisah yang menakjubkan tentang pertolongan Allah Swt melalui sedekah. Tidakkah Anda meyakininya? Salam, Bobby Herwibowo 0817200456 www.kaunee.com  Seorang pengusaha nan shalih bernama Kajiman –bukan nama asli-, malam itu sedang menginap di sebuah hotel berbintang lima di kawasan Simpang Lima Semarang. Usai melakukan qiyamul-lail ia bergegas ke luar hotel untuk mencari masjid terdekat dan shalat Shubuh berjamaah di sana. Waktu di jam tangan Kajiman menunjukkan bahwa waktu adzan Shubuh kira-kira setengah jam ke depan. Begitu keluar dari lobby hotel, Kajiman pun memanggil seorang tukang becak yang sedang mangkal lalu ia naik ke atas becak. "Mau diantar kemana, Pak?" tanya tukang becak bernama Ibnu. Begitu ditanya, Kajiman menjawab, "Antar saya keliling kota Semarang saja, Pak!" Ia menjawab sedemikian karena ia tahu bahwa waktu Shubuh masih jauh tersisa. Maka Ibnu sang tukang becak mengantarkan Kajiman berkeliling Simpang Lima sebagai pusat kota Semarang. Kira-kira belasan menit sudah Ibnu mengayuhkan pedal becak mengantarkan Kajiman yang hendak melihat panorama kota Semarang saat pagi menjelang. Beberapa jalan sudah mereka susuri berdua. Lalu sayup-sayup terdengar suara tarhim dari sebuah corong menara masjid di sana. "Ya Arhamar Rahimiin, Irhamnaa.... Ya Arhamar Rahimiin, Irhamnaa....!" Suara tarhim itu mengisyaratkan kepada warga kota Semarang bahwa waktu shubuh sebentar lagi akan menjelang. Sejurus itu Ibnu berkata santun kepada penumpangnya, "Mohon maaf ya pak, boleh tidak bapak saya pindahkan ke becak lain??" Kajiman membalas, "Memangnya bapak mau kemana?" "Mohon maaf pak, saya mau pergi ke masjid!" jawab Ibnu. Terus terang Kajiman kagum atas jawaban Ibnu sang tukang becak, namun ia ingin mencari alasan mengapa Ibnu sedemikian hebat kemauannya hingga ingin pergi ke masjid. "Kenapa harus pergi ke masjid pak Ibnu?" tanya Kajiman. Ibnu dengan polos menjawab, "Saya sudah lama bertekad untuk mengumandangkan adzan di masjid agar orang-orang bangun dan melaksanakan shalat Shubuh. Sayang khan Pak kalau kita tidak shalat Shubuh" jelas Ibnu singkat. Jawaban ini semakin membuat Kajiman bertambah kagum atas ketaatan Ibnu. Namun Kajiman belum puas sehingga ia melontarkan pertanyaan yang menggoyah keimanan Ibnu. "Pak, bagaimana kalau pak Ibnu tidak usah ke masjid tapi pak Ibnu temani saya keliling kota dan saya akan membayar Rp 500 ribu sebagai imbalannya!" Dengan santun Ibnu membalas tawaran itu, "Mohon maaf pak, bukannya menolak.... namun guru saya pernah mengajarkan bahwa shalat sunnah Fajar itu lebih mahal daripada dunia beserta isinya!" Deggg....! dinding hati Kajiman bergemuruh mendapati jawaban hebat dari seorang pengayuh becak seperti Ibnu. Ia begitu takjub atas ketaatan Ibnu kepada Tuhannya. Amat jarang menurut Kajiman manusia sekarang yang memiliki prinsip hidup seperti Ibnu. Bahkan Kajiman pun memberikan tawaran dua kali lipat dari semula, tetap saja Ibnu menolaknya. Kekaguman pun membawa Kajiman menyadari bahwa ada pelajaran besar yang sedang ia dapati dari seorang guru kehidupan bernama Ibnu pagi itu. "Dua rakaat Fajar (qabliyah Shubuh) lebih baik daripada dunia beserta isinya." (Muhammad Saw) Ibnu dan Kajiman pun tiba di salah satu masjid, rumah Allah. Lampu-lampu masjid belum menyala. Mereka berdualah orang-orang pertama yang membuka gerbang dan pintu masjid. Ibnu menyalakan lampu-lampu dan ia pun mengumandangkan adzan saat waktu Shubuh tiba. Dalam alunan suara merdu Ibnu mengumandangkan adzan, hati Kajiman semakin hebat berguncang. Dia berkata kepada Tuhannya, "Ya Allah, betapa ummat dan bangsa ini amat membutuhkan manusia-manusia hebat seperti Ibnu... Rezekikan kepada kami para pemimpin bangsa dan hamba-hamba yang senantiasa kuat beriman dan selalu merasa takut kepada-Mu.... sehingga tiada lagi yang kami cari untuk hidup di dunia ini selain keridhaan dan surga-Mu." Shalat Shubuh pun didirikan di masjid tersebut, termasuk dalam shaf barisan hamba Allah pagi itu adalah Kajiman dan Ibnu. Kajiman begitu mensyukuri pelajaran berharga yang Allah berikan untuknya di pagi itu. Usai shalat, Kajiman masih melanjutkan ibadahnya dengan dzikir dan bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Pemurah. Namun lagi-lagi terbayang di benaknya sosok hebat Ibnu sang Tukang Becak. Entah mengapa dirasakan oleh Kajiman bahwa Allah menginginkan dirinya membantu Ibnu untuk hadir ke Baitullah berhaji di tahun ini. Doa di pagi itu sungguh membuat Kajiman terasa amat dekat dengan Tuhannya. Hingga badannya berguncang dan air mata pun mengalir deras di pipinya. Tak kuasa ia membendung gelombang arus rahmat dari Tuhannya. Usai puas berdoa, Kajiman pun menurunkan kedua tangannya yang tadi terangkat. Terdengar oleh telinganya sapaan lembut pak Ibnu yang berkata, "Mari pak kita teruskan perjalanan keliling kota Semarang....!" Kajiman lalu menoleh ke arah sumber suara. Ia berdiri dan menghampiri tubuh Ibnu. Ia gamit tangan Ibnu untuk berjabat lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Sementara Ibnu belum mengerti apa maksud perbuatan yang dilakukan Kajiman. Dalam pelukan itu Kajiman membisikkan kalimat ke telinga Ibnu, "Mohon pak Ibnu tidak menolak tawaran saya kali ini. Dalam doa munajat kepada Allah tadi saya sudah bernazar untuk memberangkatkan pak Ibnu berhaji tahun ini ke Baitullah...., Mohon bapak jangan menolak tawaran saya ini. Mohon jangan ditolak!!!" Subhanallah.... bagai kilat dan guntur yang menyambar menggoncang bumi. Betapa hati Ibnu teramat kaget mendengar penuturan Kajiman yang baru saja dikenalnya. Kini Ibnu pun mengeratkan pelukan ke tubuh Kajiman dan ia berkata, "Subhanallah walhamdulillah.... terima kasih ya Allah.... terima kasih pak Kajiman.....!" Untuk kali ini, Ibnu tiada menolak tawaran Kajiman! Labbaikallahumma Labbaik..... Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah... Aku penuhi panggilan-Mu Haji adalah memenuhi panggilan Allah Swt sekali seumur hidup. Bagaimana mungkin seorang manusia memenuhi panggilan Allah yang agung ini, bila dalam sehari Allah Swt memanggilnya hingga lima kali, namun ia tiada mengindahkan. Ibnu sungguh pantas mendapat hadiah penghargaan dari Allah Swt. Ucapan terima kasih khusus untuk ayahanda Kajiman atas kisah yang luar biasa ini! Salam, Bobby herwibowo 0817200456 www.kaunee.com  Sore itu Bambang & istrinya menumpang mobil Suzuki Carry milik adik ipar. Kebetulan sang adik datang ke Jakarta guna memenuhi undangan perkawinan seorang saudara yang 'ngunduh mantu'. Suzuki Carry itu sudah rusak AC-nya, jendela kaca pun diturunkan agar angin berseliweran. Saat itu mereka sedang berada di tol Grogol arah Cawang. Kaca jendela terbuka, suara mobil-mobil di luar begitu kencang terdengar, maka pembicaraan antara Bambang, istri & adiknya haruslah dengan suara keras dan menarik urat tenggorokan. Bambang duduk di sebelah kiri depan. Sang adik ipar memegang kemudi dan istri Bambang duduk di bangku belakang. Mobil berjalan di jalur paling kiri karena laju yang terbatas. Saat asyik berbicara ke sana kemari, tiba-tiba mobil Suzuki Carry buatan Jepang itu limbung tertiup angin sebab ada sebuah sedan Eropa yang menyalip dengan kecepatan kencang. Bagi si pemilik Suzuki Carry, mobil limbung di jalan adalah hal biasa. Bambang pun tidak ambil pusing dengan duduk yang terombang-ambing. Namun secepat kilat istri Bambang berseru, "Wuihhh, hebat sekali mobil BMW seri 5 itu ya pak... coba kita punya mobil kayak begitu!!!" Dengan enteng Bambang menimpali, "Doakan saja bu, insya Allah bila Dia berkenan boleh jadi suatu saat kita bisa punya mobil kayak begitu!" Inilah keinginan seorang istri yang diamini oleh sang suami. Keinginan sepasang suami-istri ini terangkai begitu indah menjadi baluran doa yang terangkat ke langit dan menghadap Sang Pencipta. "Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya." QS. 35 : 10 Namun rangkaian doa yang naik itu tidak begitu saja disukai oleh setan, laknatullah. Setan pun turun ke telinga adik ipar Bambang yang sedang menyetir. Begitu sang adik ipar mendengar tutur Bambang lalu ia pun berkomentar, "Hah...., mau beli mobil mewah kayak begitu?! Jangan mimpi, Mas.... gaji sampeyan sebulan saja gak sampai Rp 1 juta gimana bisa beli mobil seperti itu?!!!" Bambang menukas dengan enteng, "Khan gak ada yang gak mungkin kalau Allah sudah berkehendak!" "Tapi khan sampeyan harus ukur kemampuan diri... Kalau mimpi mbok ya jangan tinggi-tinggi, nanti kalau tak tercapai jatuhnya sakit!!!" ejek sang adik ipar. Kalimat yang terakhir itu begitu terngiang di telinga Bambang. Hatinya terluka oleh ucapan adik iparnya. "Boleh dia menghinaku tidak mampu karena profesiku sebagai dosen... tapi urusan rezeki, Allah Maha Kaya!" gumamnya. "Ya Allah, hamba merasa terhina, tunjukkanlah kekuasaanMu bahwa Engkau amat mampu menghadirkan mobil seperti itu untukku!" doa Bambang membatin. "Tiga macam doa yang tidak akan tertolak... salah satunya adalah doa orang yang teraniaya. Allah akan angkat doanya dan Allah berfirman, 'Aku akan memberi pertolongan kepadamu.'" (Muhammad Saw) *** Peristiwa itu sudah berlangsung kira-kira 2 minggu, bahkan Bambang sendiri sudah melupakannya. Usai memberi kuliah di sebuah kelas, tiba-tiba hape Bambang berdering. Ada sebuah nomer yang tidak ia kenal di sana. "Bang...., ini aku Syahrial teman kuliahmu dulu, masih ingat khan?!" suara orang di seberang sana. "Ya..., masih" jawab Bambang dengan nada malas. Bambang sungguh kenal begitu akrab dulunya dengan Syahrial. Bahkan ketika kuliah dulu mereka begitu akrab sehingga dimana ada Bambang, pasti di situ ada Syahrial. Namun sayang, takdir Allah membuat Syahrial terpisah persahabatan dari Bambang sebab Syahrial menjadi anak pejabat sukses. Sejak prestasi kerja ayahnya meroket bahkan menjadi salah satu menteri di era Soeharto, maka Syahrial pun sejak saat itu mulai bergaul dengan gaya hidup anak-anak pejabat zaman itu. Rumah mewah yang banyak.... kendaraan tak terhitung... asset berupa tanah, kebun, bangunan dan lain-lain adalah pemandangan tak aneh yang dimiliki para pejabat di waktu itu. Namun itu dulu! Sejak ayahnya tidak lagi menjabat..., satu per satu harta benda keluarga itu dijual. Untuk mempertahankan gengsi dan gaya hidup mereka hutang sana-sini kepada siapa saja. Hingga sudah tidak ada lagi orang yang bisa memberi hutang, maka siang itu terbersitlah teman lama bernama Bambang di benak Syahrial. *** "Ada apa...? tumben kamu mau telpon aku!" tanya Bambang ketus. "Bang..., tolong aku... Aku perlu uang Rp 30 juta... boleh aku pinjam uangmu?!" tanya Syahrial. Bambang tahu bahwa temannya yang anak mantan pejabat ini sudah terkenal tukang hutang dimana-mana, Bambang malas meladeni orang stress macam begini. Singkat Bambang membalas, "Aku orang susah... gak punya banyak uang... Rp 30 juta aku gak punya... tapi mungkin kalau Rp 27 juta sih ada!" Mendengar angka 27 juta, maka terbitlah harapan di benak Syahrial. Ia pun berseru, "Ya sudah... bagaimana aku bisa dapatkan itu?" Bambang menukas, "Kamu mau bayar pakai apa...?!" Mendapati komentar Bambang, Syahrial pun tersinggung dan ia berkata, "Jangan menghina kamu, Bang...! Meski sudah bangkrut seperti ini aku masih punya beberapa mobil yang bisa aku gadaikan untuk menjamin pinjaman darimu!!!" Dari seberang pembicaraan Bambang berucap, "Gak usah digadai..., kalau kamu mau lepas aja sekalian salah satu mobil itu!" Dasar orang lagi gelap mata, Syahrial pun berkomentar, "Ya sudah..., dimana kamu sekarang dan kemana bisa aku ambil uang 27 juta itu? Kamu akan aku jemput dan kamu boleh datang ke rumah untuk pilih salah satu mobilku!!!" *** Maka Syahrial kini sudah bersama Bambang dalam satu mobil. Mereka berdua menuju rumah Syahrial. Rumah itu adalah sebuah rumah yang amat mewah yang terletak di kawasan selatan Jakarta. Bambang bertutur bahwa begitu garasi mobil terbuka, di dalamnya ia melihat belasan mobil CBU (Completely Built Up/mobil asli buatan pabrik) dengan warna-warna kinclong mengkilap. Nanar bola mata Bambang menatapi cat mobil-mobil bagus itu tertimpa sinar lampu. Berbagai macam mobil yang ada ia sambangi dan naiki. Hingga saatnya ada sebuah mobil sedan Eropa berwarna biru tua bermerk BMW terlihat oleh Bambang. Kedua lampu depannya begitu elegan. Bambang amat tertarik dengan mobil ini. Seketika itu juga, terlintas di benaknya akan kejadian 2 minggu lampau saat istrinya berkata, "Wuihhh, hebat sekali mobil BMW seri 5 itu ya pak... Coba kita punya mobil kayak begitu!!!" Tapi khan sore itu Bambang & istrinya melihat dari tampak belakang... Sedangkan kini Bambang melihatnya dari sisi depan. "Apakah mobil ini mirip dengan yang pernah kami lihat dulu, ya Allah?" batin Bambang. Maka ia pun bergegas lari ke arah belakang. Dan Subhanallah.... lampu belakang dan bagian belakang mobil tersebut persis mirip dengan yang pernah dilihat olehnya dan istri. Bambang pun langsung berkata kepada Syahrial, "Yang ini boleh gak...?!" "Silakan saja kalau kamu mau coba...!" jawabnya. Bambang pun melakukan test-drive. Mobil itu luar biasa nikmat menurut Bambang. Meski seken, namun seperti benar-benar baru sebab jarang dipakai. Akhirnya Bambang pun berkata,"Baiklah aku ambil mobil ini!!!" Setelah cocok dengan pilihannya, maka Syahrial menyiapkan seluruh surat-surat mobil BMW itu dan mereka berdua kini menuju sebuah bank untuk mentransfer dana penjualan mobil itu. Hingga akhirnya, kini Bambang benar-benar memiliki BMW seri 5 itu setelah ia membayarnya seharga Rp 27 juta. *** Sore itu, Bambang pulang ke rumah dengan mobil barunya. Hatinya amat girang dan penuh syukur kepada Allah Swt. Mobil itu ia parkir di depan mulut gang rumahnya. Ia pun bergegas masuk dan memberitahukan kepada istrinya bahwa ia sudah membeli mobil idaman. Lalu sang istri pun bersyukur kegirangan....!!! *** Selang dua hari kemudian Bambang & istrinya pulang kampung demi berbagi kebahagiaan ini. Orang tua, mertua dan saudara-saudara amat senang dengan karunia indah ini. Hingga akhirnya Bambang berjumpa dengan adik iparnya sang pemilik mobil Suzuki Carry yang pernah berkata kepadanya beberapa minggu lalu, "Hah...., mau beli mobil mewah kayak begitu?! Jangan mimpi,Mas.... gaji sampeyan sebulan saja gak sampai Rp 1 juta gimana bisa beli mobil seperti itu?!!!" Kini kepadanya Bambang bisa berkata, "Dik... lihat nih seorang dosen yang gajinya tidak sampai Rp 1 juta sebulan... akhirnya dengan pertolongan Allah Swt bisa juga membeli mobil mewah seperti ini!" *** Dunia bergulir cepat. Kadang di atas, bisa juga kita di bawah. Saat di atas perbanyaklah syukur. Ketika di bawah janganlah larut dalam kesedihan. Yakinlah suatu saat, Anda mendapat giliran! Salam, bobby herwibowo 0817200456 www.kaunee.com
Pagi itu saya tengah berkeliling sebuah pesantren yang mengagumkan di Kalimantan Timur. Pesantren itu adalah Pesantren Hidayatullah yang terletak di sebuah kawasan bernama Gunung Tembak, Balikpapan. 120 hektar luas pesantren itu dan lebih dari 130 cabang sudah tersebar di dalam maupun luar negeri. Setidaknya itulah info yang saya dapatkan dari beberapa ustadz yang menemani saya saat bersilaturahmi ke sana. *** "Santri sebanyak ini, berapa biaya yang dikeluarkan setiap bulannya…?" tanya saya kepada Ustadz Ainurrofiq. Beliau menjawab bahwa Alhamdulillah biaya bulanan selalu cukup meskipun banyak dari santri yang tidak sanggup membayar SPP. "Lalu darimana biaya bulanan itu ditutupi…?"kejar saya. "Khan ada Allah!!!" jawab beliau singkat. "Ya, saya mengerti… tapi khan pasti ada jalan keluar yang harus dicari... Begini aja, ada cerita bagus gak dari pesantren ini yang bisa dibagi ke saya?!" tandas saya. Akhirnya ustadz Rofiq (beliau biasa disapa demikian), menceritakan satu kisah yang mengagumkan: *** Waktu itu pernah datang kepala gudang kepada Abdullah Said, pimpinan pertama pesantren. Sang ustadz, kepala gudang pagi itu datang mengadu kepada bapak pimpinan, "Pak, di gudang kini tidak tersisa sebutir beras pun untuk makan santri nanti siang!" Hal itu dilaporkannya pada pukul sekitar jam 8 pagi, padahal makan siang hanya tersisa 4 jam lagi. Dus, santri yang perlu makan jumlahnya adalah ratusan. Mendengarnya pak kyai menjawab tenang. Ya, inilah sosok hamba Allah yang selalu menyerahkan urusannya kepada Allah. Tidak pernah panik dan selalu tenang! Beliau menukas, "Begini saja, mari kita pergi ke masjid untuk shalat Dhuha!" Sang ustadz kepala gudang mengiyakan ajakan pak kyai. Ustadz kepala gudang tahu benar tabiat kyai yang selalu menyerahkan semua urusan kepada Allah Swt. Melihat mereka berdua berjalan menuju masjid, rupanya ada beberapa ustadz lain yang mengikuti langkah mereka. Pemandangan segerombolan ustadz dan kyai menarik perhatian beberapa santri dan akhirnya rombongan menuju masjid untuk melaksanakan shalat dhuha pun menjadi banyak. *** Inilah para hamba Allah yang sebenarnya. Yaitu manusia-manusia shalih yang mengabdikan diri menjadi hamba Allah sesungguhnya, dan mereka semua menjadikan Allah Swt menjadi Tuhan mereka dengan sebenarnya.
Radhitu billahi Rabban.... wa bil islami diinaa... wa bi muhammadin nabiyyan wa rasuulaa...
Maka para hamba Allah itu melakukan shalat dhuha sepuas hati mereka. Ada di antara mereka yang mengerjakan 2, 4, 6, 8 bahkan 12 rakaat. Usai mereka berdiri, rukuk dan sujud dihadapan Allah Sang Penguasa Alam, maka wajah-wajah mereka menengadah. Tangan-tangan mereka terangkat menjulur ke langit. Mereka meminta dengan penuh harap dihadapan Tuhannya.
Allahumma inna hadzhad dhuha'a dhuha'uka wal baha'a baha'uka..... Aatinii maa ataita min ibaadikas shaalihin... Ya Allah... sungguh waktu dhuha ini adalah milikMu, dan keagungan adalah kepunyaanmu.... Berikan kepadaku karunia yang pernah Engkau berikan kepada hamba-hambaMu yang shalihin.
Itulah doa Dhuha yang dibacakan oleh para hamba Allah tadi. Kondisi mereka masih berada di tempatnya. Tidak seorang pun beranjak pergi meninggalkan masjid. Meski demikian, rupanya ijabah Allah sudah tiba sebelum doa mereka diselesaikan. Ya, ijabah Allah mendahului permohonan doa mereka!!!
*** Siapa yang pernah berkunjung ke pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak ini akan mendapati bahwa gerbang pesantren terletak di sisi kanan depan masjid. Maka gerbang tidak jauh berjarak dari masjid tempat para hamba Allah tadi berdoa. Maka di gerbang tersebut ada sebuah truk penuh berisi muatan beras. Ya, beras!!! Beras yang Allah Swt datangkan untuk para hambaNya yang membutuhkan.
Truk itu pun dibongkar muatannya di gudang pesantren. Sambil membongkar para petugas pesantren menanyakan kepada supir truk darimana asal beras ini. Supir truk itu memberi keterangan bahwa kemarin Bulog Kaltim melakukan sidak (inspeksi mendadak) di pasar. Mereka temukan raskin (beras untuk orang miskin) rupanya dijual bebas. Maka beras itu pun disita oleh Bulog. Setelah disita para pejabat Bulog Kaltim mendapati bahwa gudang mereka penuh dan tidak bisa menampung beras sitaan. Maka mereka berpendapat, kalau tidak bisa disimpan lebih baik disumbangkan saja sebelum beras itu rusak. Namun kemana hendak disumbangkan? Maka mereka memutuskan untuk menyalurkan beras itu ke pesantren Hidayatullah saja!!!
Subhanallah...!!! rupanya sebelum pak Kyai Abdullah Said berdoa bersama para ustadz dan santrinya, jauh sebelum itu rupanya Allah Swt sungguh sudah mempersiapkan segala yang hendak diminta oleh para hamba-hamba kesayangannya.
Sungguh ada kenikmatan dan keindahan yang tiada terperi, bila kita menjadi hamba Allah sebenarnya! Tidakkah kita menyadarinya, sobat?!
Salam, bobby herwibowo 0817200456 www.kaunee.com
Saya mengenal Bambang dalam sebuah kesempatan umrah. Meski berprofesi sebagai seorang dosen yang berpenghasilan pas-pasan, namun rezeki dari Allah Swt menurutnya bukan dari berapa besar penghasilan yang diterima seseorang. Bambang selalu berkeyakinan, “Berapapun besaran rezeki yang Allah berikan asal pintar mensyukurinya, pasti Allah akan memberi tambahan keberkahan seperti yang selalu dijanjikan.” Rupanya hidup penuh rasa kesyukuran kepada Allah membuatnya bisa berangkat umrah bersama istri, meskipun tanpa harus mengeluarkan duit sedikitpun dari koceknya. “Jadi, bukankah ini pun adalah rezeki dari Allah yang tak terduga?!” tukas Bambang bersemangat. Saya mengiyakan sepenuh hati prinsip hidup penuh kesyukuran yang Bambang jalani. Prinsip syukur kepada Allah Swt terus kami perbincangkan, hingga pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa hidup itu serasa di surga asalkan kita pandai bersyukur kepadaNya.
"Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." QS. 36 : 55-58
Bambang berkisah bahwa hari itu saat musim hujan seperti sekarang sering terjadi ia menikmati tidur siang. Usai shalat Ashar, Bambang duduk di kursi sofa di ruang keluarga. Pesawat televisi baru saja ia matikan karena tidak ada acara yang menarik untuk ditonton menurutnya. Bingung hendak melakukan apa, Bambang lalu memanggil istrinya untuk berbincang-bincang. Wieke sang istri kini sudah duduk di sebelang Bambang. Teh manis dan sedikit camilan menemani obrolan mereka sore itu saat rintik hujan mengguyur deras teras rumah mereka. Sore hari sehabis bangun tidur apalagi kondisi dingin hujan di luar rumah rupanya membangkit gairah selera makan Bambang. Tiba-tiba Bambang menyela pembicaraan, “Bu, dingin-dingin seperti sekarang ini enaknya makan sop kambing atau gulai ya?” Istrinya menukas, “Wah... jangan pingin macam-macam pak! Daging kambing mahal, sedang uang gaji yang kau berikan tidak cukup untuk beli daging kambing.” “Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk masak daging kambing, Bu?” tanya Bambang menyangkal. “Barusan bapak bilang mau sop kambing atau gulai, itu artinya apa...?!” tanya Wieke minta ketegasan. “Ah... aku hanya mengajakmu berandai-andai saja. Dingin-dingin seperti ini, enaknya makan sop kambing atau gulai?” jelas Bambang. Wieke baru mengerti maksud suaminya dan segera ia menukas, “Oh... jadi cuma berkhayal toh?! Kalau gitu enakan mana ya.... Emmmmmm...” ia bergumam. “Aku rasa dingin-dingin begini sepertinya lebih enak makan gulai kambing ya pak?!” usul Wieke. Bambang lalu membayangkan kenikmatan gulai kambing yang mengepul, dengan santan yang kental dan daging kambing dengan aroma khas berwarna kuning. “Duh nikmat sekali...!!!” gumam Bambang. “Iya deh bu, akku setuju. Enakan makan gulai kambing dingin-dingin seperti ini!!!” seru Bambang.
Sepasang suami-istri itu sepakat menginginkan gulai kambing dalam suasana dingin di bawah guyuran hujan. Keinginan itu laksana doa dari mereka. Dalam ketiadaan materi mereka hanya bisa berharap dan berkhayal. Namun apa yang terjadi kemudian...???
Bambang lalu mengisahkan bahwa sejenak kemudian hujan terdengar berhenti mengguyur. Lalu terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Bambang memberi isyarat kepada Wieke untuk segera membukakan pintu.
Wieke bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu. Terdengar pembicaraan Wieke dengan seseorang. Bambang yakin bahwa Wieke sudah menutup pintu itu kembali. Namun aneh, Wieke tidak datang lagi menemui suaminya. Bambang menunggu beberapa lama. Ia menunggu dan menunggu... “Aneh, kenapa istriku tak muncul-muncul?” gumamnya. Bambang pun memanggil-manggil istrinya, “Bu, ada apa.... Bu, ada apa....?!” Sementara yang dipanggil tidak memberi jawaban.
Bambang penasaran dan ia bangkit untuk menyusul istrinya di depan pintu. Ternyata ia dapati istrinya sedang terpaku berdiam diri. Ada pemandangan yang aneh di sana!!! Ia dapati kini istrinya berdiri menunduk sambil memegang sebuah nampan. Di atas nampan itu terdapat sebuah mangkuk, lalu mangkuk itu ditutupi dengan sebuah kertas cokelat pembungkus nasi. “Lalu mengapa istriku berdiam diri seperti itu?”batin Bambang.
“Bu, ada apa.... Bu, ada apa...?!” sekali lagi Bambang bertanya. Namun tetap saja Wieke tidak memberi jawaban. Lalu batin Bambang semakin kacau, bahkan ia menduga jangan-jangan ada seorang tetangganya yang baru saja meninggal sehingga membuat istrinya menjadi sedih dan terdiam.
“Ada apa, Bu?” Bambang kini memegang kedua bahu istrinya. Maka Wieke pun terlihat meneteskan air mata di pipinya. Wieke tak sanggup berkata apa pun membalas pertanyaan suaminya. Kini Wieke membuka kertas pembungkus yang menutupi mangkuk di atas nampan. Saat kertas itu disingkap, maka Wieke hanya bisa berkata, “INI GULAI KAMBING, PAK.....!”
Subhanalllah...., begitu cepat Allah Swt menghadirkan keinginan para hamba-hambaNya. Hidup laksana di surga. Apapun yang diinginkan, selalu Allah hadirkan. Lalu, nikmat Tuhan yang mana lagi hendak engkau dustakan?!
Salam, Bobby Herwibowo 0817200456 www.kaunee.com
"Pa…, seperti orang lagi kelebihan duit aja... Ngapain bagi-bagi duit sampai segitu banyak..?!" tanya Ima kepada Zainal suaminya. "Sudahlah Ma, pokoknya aku mau berbagi rezeki kepada keluarga di kampung kita ini, insya Allah pasti dibalas berlipat-lipat olehNya" jelas Zainal kepada Ima. *** Tahun itu Zainal sedang pulang mudik Iedul Fitri ke kampungnya di Maninjau, Bukit Tinggi. Sebagaimana urang awak di perantauan, kembali ke kampung setiap kali lebaran Iedul Fitri adalah sebuah tradisi yang jangan sampai terlewatkan. Mereka yang mencoba peruntungan nasib di perantuan dan sudah sukses, akan kembali dengan membawa sedikit rezeki mereka setiap kali lebaran demi berbagi untuk handai taulan di kampung yang kurang bernasib baik. Itu juga yang dilakukan Zainal setiap tahun. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2004, Zainal membawa uang untuk disedekahkan dengan nilai hampir Rp 40 juta. Padahal di tahun sebelumnya, kisaran sedekah yang ia berikan antara 5-10 juta saja. *** Allah Swt tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa untuk membalas kebaikan setiap hamba-Nya. *** Usai cuti lebaran Zainal kembali masuk kerja. Para karyawan menyambutnya seraya bersalaman mengucap selamat Iedul Fitri. Suasana halal bi halal terasa kental di lingkungan kantor Zainal. Kini ia sudah masuk ke dalam ruangannya. Ia berdiri di antara kursi dan mejanya. Namun sebelum ia duduk, hp yang ia bawa terdengar berbunyi.
"Pak Haji Zainal, selamat Iedul Fitri dan mohon maaf lahir batin! Ini Joko rekanan kerja bapak…" terdengar suara di seberang telpon Zainal. "Oh sama-sama pak Joko… Mohon maaf lahir batin juga ya!" sahut Zainal. "Begini pak haji..., saya ingin minta bantuan yang sedikit mendesak. Saya tahu pak haji Zainal usahanya bukan dibidang beginian. Tapi barangkali pak haji bisa bantuin saya cari barang..." jelas Joko. "Nyari barang apa, pak Joko?!" tanya Zainal. "Bapak tahu pantat low-bed khan?! *) perusahaan saya mencari yang seken/bekas. Kira-kira haji Zainal bisa bantuin nyari gak ya....?" tanya Joko. Terus terang Zainal belum pernah punya pengalaman mencari barang seperti ini. Selama ini bisnis Zainal hanya berkutat seputar dunia forwarding (pengiriman barang). Namun anehnya Zainal mengiyakan tawaran itu. "Kalau haji Zainal bisa bantu cariin, saya mohon dalam 3 hari ini ya...!" Pembicaraan pun terputus setelah tenggat waktu 3 hari yang disepakati mereka berdua. Usai telpon ditutup, maka kini Zainal berpikir keras hendak mencari kemana barang yang dimaksud? *** Sudah puluhan kenalan ia kontak. Beberapa tempat industri sekeliling Jakarta sudah ia sambangi. Namun semua itu tidak memberikan hasil apa-apa. Padahal tenggat waktu tersisa 1 hari lagi. "Subhanallah...!!!" Zainal terhenyak dari duduknya di atas mobil. Seolah ia baru saja mendapatkan ilham dari Allah atas keberadaan sebuah pantat low-bed yang pernah ia lihat. "Kita ke Padalarang, pak...!" seru Zainal kepada supirnya. Hati Zainal cemas penuh harap. Teringat peristiwa hampir 3 tahun sebelumnya bahwa ia pernah melihat sebuah pantat low-bed ditaruh di pinggir jalan Padalarang dengan sebuah papan bertuliskan DIJUAL. Padahal saat itu kondisi jalan gelap karena malam dan hujan pun mengguyur sepanjang perjalanan. Saat itu Zainal melihat barang itu tanpa sedikit pun perhatian. Namun kini, ia berharap kepada Allah, semoga pantat low-bed itu masih teronggok di sana. *** Allah mengabulkan doa Zainal. Setibanya di sana, ia dapati pantat low-bed berwarna kuning itu sudah banyak berkarat. Segera saja ia mengontak pemiliknya. Dan rupanya pemiliknya mau menjual murah barang tersebut. Maka disepakatilah antara Zainal dan pemilik low-bed itu nilai Rp. 50 juta.
Malam itu juga Zainal menelpon Joko memberitahukan bahwa ia sudah menemukan barang yang dimaksud. Joko senang mendengar kabar ini, dan ia berjanji esok pagi akan membawa serta bossnya seorang expatriate bernama Phillip. Maka keesokan pagi mereka semua datang ke lokasi pantat low-bed untuk check fisik. Hati Zainal agak sedikit khawatir sebab biasanya orang asing agak rewel kalau membeli barang. Apalagi pantat low-bed ini sudah berkarat di sana-sini. Namun jauh di luar dugaan Zainal, rupanya Phillip merasa puas dan ia merekomendasikan agar barang tersebut langsung dibeli. Maka usai melihat barang tersebut. Masing-masing mereka pulang dengan kendaraannya. *** Di atas mobil sepulangnya dari Padalarang, Zainal ditelpon Joko. "Pak Haji, Alhamdulillah boss saya sudah setuju dengan barang tersebut. Silakan kirim surat penawaran harganya kepada kami. Di-fax aja biar langsung saya ajukan ke atasan!" jelas Joko melalui handphone. Zainal pun mengiyakan.
Keesokan paginya, Zainal membuat surat penawaran yang diminta. Dalam surat tersebut ia tulis semua spesifikasi pantat low bed yang dimaksud. Maka saat hendak menulis harga ia berhenti sejenak… Zainal agak bingung mencantumkan berapa harga yang mau ditawarkan. Dalam hal ini ia belum punya pengalaman. Namun bismilllah, dengan nama Allah ia beranikan diri mencantumkan harga Rp 175 juta. Usai dibuat, surat penawaran itu pun difax langsung ke nomer kantor Joko.
Belum lama berselang, hape Zainal berdering dan ternyata dari Joko. "Saya sudah terima surat penawaran dari pak haji. Tapi kayaknya harganya terlalu mahal tuh!" Joko membuka pembicaraan. "Silakan saja pak Joko kalau mau tawar..!" sambut Zainal. "Kalau boleh nawar bisa gak Rp10 juta…?!" tanya Joko. Mendengarnya Zainal kaget dan langsung membalas, "Yang benar saja, pak Joko. Masa harga Rp 175 juta ditawar cuma 10 juta?!" "Eh... maksud saya bukan nawar barang itu menjadi 10 juta, tapi saya bermaksud bisa gak barang tersebut saya tawar harganya menjadi berkurang 10 juta dari angka yang ditawarkan. Jadi harganya 165 juta, bisa gak pak haji?!" Subhanallah...., Zainal seolah tidak percaya dengan tanggapan dan penjelasan Joko. Ia pun langsung bersemangat dan mengatakan, "Gak ada masalah, silakan saja ambil barang itu dengan harga yang pak Joko bilang!"
Pembicaraan pun disudahi dan setelah mendapatkan surat pembelian barang dari perusahaan Joko, maka Zainal pun mengirimkan pantat low-bed itu ke gudang perusahaan Joko. Dalam beberapa hari dana Rp 165 juta sudah terkirim ke rekening Zainal. *** Sore itu Zainal pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Ia bernyanyi dan bersiul mengekspresikan hatinya yang riang. Masuk rumah ia tidak langsung ke kamar dan berganti pakaian. Ia duduk di ruang tamu sambil terus bernyanyi dan bersiul. Istrinya memperhatikan gelagat aneh ini. Kemudian Ima sang istri bertanya kepada Zainal apa yang terjadi. Zainal menukas, "Nih lihat dalam buku tabungan ada uang masuk gak...?" Begitu melihatnya, Ima langsung berujar, "Alhamdulillah...., rezeki dari mana nih Pa?" Zainal langsung berkomentar, "Ini adalah balasan dari Allah saat kita berbagi rezeki kepada kerabat di kampung kemarin. Kamu lihat sendiri khan berapa besar Allah langsung membayarnya?!"
Ima pun mengangguk mengiyakan penjelasan suaminya. Keduanya kini sadar bahwa berbagi di jalan Allah akan mendatangkan balasan berlipat ganda. 40 juta rupiah yang mereka bagikan, hanya dalam hitungan hari dibalas menjadi Rp 165 juta. Inilah perniagaan yang tiada pernah merugi. Apakah ada tawaran bisnis yang lebih baik dari ini? Hendak kemana kalian berpaling?!
Salam, bobby herwibowo 0817200456 www.kaunee.com *)Kata yang betul ada Low Bed Trailer, yaitu sebuah jenis truk yang didesain agak rendah belakangnya memiliki jumlah roda yang banyak untuk mengangkut alat-alat berat
"Allah selalu menolong hambaNya, selagi sang hamba suka menolong saudaranya" (Muhammad Saw)
"Ma, tolong transfer uang satu setengah juta ke rekening adikku Arif ya…!" ucap Didik kepada Feny istrinya melalui ponsel. "Buat apa, Pa?!" tanya Feny. "Pokoknya kamu kirim saja ke rekening dia lewat sms banking. Hitung-hitung berbagi rezeki. Sepertinya sudah lama kita gak bantu Arif sekeluarga" jelas Didik. Didik yang sedang berada di atas mobilnya pagi itu tergerak untuk bersilaturahmi kepada Arif adiknya di kampung yang sudah lama tidak ia hubungi. Ingin sekali ia menelpon adiknya sekedar menanyakan kabar, namun ada sejumput rezeki yang ingin ia bagi kepada Arif yang menjadi seorang PNS di Semarang. Tak lama menunggu, hand phone Didik berbunyi menandakan ada sms masuk dari istrinya mengabarkan bahwa dana Rp 1,5 juta telah ditransfer ke rekening Arif. Didik membalas sms istrinya, lalu ia pun memutar telpon Arif untuk bersilaturahmi. *** "Apa kabarmu, Dik?" tanya Didik kepada Arif. Perbincangan di menit-menit awal begitu akrab antara dua orang saudara kandung yang lama tidak bertemu sebab terpisah jarak. "Oh ya..., baru saja Feny istriku kirim dana satu setengah juta rupiah buat keponakan-keponakanku di Semarang. Silakan dicek apa sudah sampai?!" jelas Didik. "Subhanallah, Alhamdulillah! Terima kasih, Mas. Saya gak ngerti harus ngucap apa ya...?" sambut Arif. "Memangnya kenapa, Rif?" tanya Didik. "Subhanallah... sudah beberapa hari ini saya bingung mau ngutang kemana untuk bayar sekolah Danu. Dia diterima di SMP Negeri, tapi uang pendaftarannya Rp 1.5 juta. Kemana-mana saya cari utangan, gak dapat-dapat. Tapi Alhamdulillah rupanya Allah gerakkan hati mas Didik padahal saya belum cerita tentang hal ini." Dalam hati, Didik merasa kagum atas skenario Allah ini lalu ia menambahkan, "Sudahlah, itu rupanya sudah Allah atur. Mudah-mudahan dana itu berguna untuk pendidikan Danu!" Pembicaraan kedua saudara itu berakhir dengan kalimat syukur dan terima kasih yang berulang-ulang dari Arif. Padahal, Didik pun turut bersyukur kepada Allah Swt Sang Maha Pengatur yang sudah menggerakkan hatinya dan Feny untuk mudah membantu keperluan Arif sekeluarga yang sedang dirundung masalah. "Segala puji bagiMu, ya Allah!" gumam Didik *** Hari itu Didik hendak memenuhi sebuah undangan rapat di kantor rekanan tentang proyek pipanisasi gas yang akan dibangun. Sebagai seorang pengusaha pemilik perusahaan Oil & Gas yang berkiprah belasan tahun, saran dan analisa Didik amat dibutuhkan. Dalam rapat tersebut Didik mendapatkan porsi untuk menjelaskan hal-hal teknis yang pernah ia jumpai di lapangan dalam hal sedemikian. Semua statementnya dicatat oleh seluruh yang hadir di ruangan itu. Hampir 1 jam ia bicara, dan setelah ia memaparkan penjelasannya dan ditambah dengan sedikit diskusi Didik pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan rapat karena ada acara yang harus ia hadiri. *** Didik bergegas meninggalkan ruang rapat di kantor rekanannya itu. Terdengar oleh telinga Didik ada hak sepatu wanita di belakangnya yang berlari cepat seperti mengejar sesuatu. Benar saja, rupanya wanita itu kini sudah berada di sisi Didik. "Maaf pak Didik saya Amel. Boleh saya minta tanda tangan pak Didik?!" "Tanda tangan untuk apa, Mel? " Didik bertanya. "Ini ada uang kehadiran rapat yang boss titipkan kepada saya untuk pak Didik" jelas Amel. Didik pun menandatangani sebuah kwitansi berwarna hijau yang tertera nominalnya Rp 3 juta. Setelah kwitansi itu ditandatangani, maka Amel pun menyerahkan selembar amplop yang berisi cek senilai Rp. 3 juta. *** Kini Didik sudah berada di atas mobilnya. Hatinya berbunga-bunga dan segera ia menelpon istrinya. "Ma..., ingat gak 2 jam lalu aku memintamu transfer satu setengah juta ke rekening Arif. Subhanallah, dalam tempo dua jam itu, Allah langsung membalas 2 kali lipat dari sedekah kita!!!" Feny pun berkali-kali berucap hamdalah tanda syukur. Pagi itu Didik & Feny menyaksikan sebuah janji Allah yang nyata bahwa perniagaan di jalan Allah sedikit pun tidak mendatangkan kerugian, akan tetapi malah bertambah, bertambah dan bertambah! Saya yakin Anda juga pernah merasakannya.... 
Salam, Bobby Herwibowo 0817200456 www.kaunee.com
 Allah SWT berfirman: "Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua." (Qs. Al Ankabuut [29] : 8) Bismillahirrahmanirrahim, Siang itu saat I'tikaf di sebuah masjid di bilangan Jendral Sudirman Jakarta datang seorang pria bernama Mucthar (bukan nama sebenarnya). Pria ini adalah orang berada, dari paras dan pakaian yang dikenakannya saya dapat menyimpulkan itu. Kami berbincang usai shalat Zhuhur. Dan kami mencoba merenungi karunia apa yang pernah Allah Swt limpahkan selama hidup. Satu per satu orang mengutarakan karunia Allah yang ia rasakan. Subhanallah, terkadang dalam duduk sesaat merenungi karunia Allah bersama kumpulan orang-orang yang shalih bisa membuat hidup lebih berarti dan sarat makna. Maka satu demi satu masing-masing kami merasakan betapa Allah Swt sangat sayang kepada setiap hambaNya. Namun sedikit sekali dari manusia yang pandai bersyukur kepada Allah Swt. Kini giliran Muchtar untuk bicara. Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dia bekerja sebagai konsultan dalam bidang pertambangan. "Tidak melulu orang yang bekerja di bidang ini selalu berlebih harta" menurutnya. "Namun perkara lapang atau sempit, sebetulnya ada dalam hati masing-masing orang" lanjutnya. "Saya ingat tahun 90-an, saya punya uang sekitar Rp40 juta. Istri saya berencana menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah di Serpong, dan memang saat itu kami belum memiliki rumah…. Kemudian saya usul kepada istri bahwa kedua orang tua saya dan kedua orang tuanya belum pernah berhaji. Mumpung mereka masih ada umur dan kita ada kelapangan uang 40 juta ini, kiranya berkenankah istri saya untuk mengikhlaskan uang ini untuk memberangkatkan mereka berempat ke tanah suci?" Muchtar menjelaskan awal masalah kepada kami semua. Selanjutnya Muchtar mengutarakan bahwa malam itu setelah melewati beberapa pertimbangan akhirnya sang istri menuruti usulnya. Dan proses itu tidak mudah, berkali-kali istrinya berpikiran goyah, sehingga hampir membatalkan niat untuk memberangkatkan haji keempat orang tua mereka. "Namun saya bilang kepada istri saya, bahwa ini adalah bentuk bakti kita kepada orang tua. Pastilah Allah akan bayar kebaikan ini….! Apalagi sesampainya di sana, orang tua kita akan mendoakan di tempat-tempat mustajab. Aku jamin, Allah pasti akan membalas kebaikan ini!" jelas Muchtar kepada istrinya. Ketegaran hati pun mengkristal dan niat suci itu pun terlaksanakan. Saat itu ongkos naik haji (ONH) kira-kira Rp7 juta-an. Ditambah biaya bimbingan dan biaya hidup selama di tanah suci maka kira-kira uang Rp 40 juta itu adalah cukup. Maka berangkatlah keempat orang yang dicintai Muchtar dan istrinya ke tanah suci untuk berhaji. ***** Tidak ada yang sia-sia saat kita melakukan kebaikan. Energi kebaikan itu akan kembali kepada pemiliknya. Bahkan boleh jadi ia akan kembali menjadi besar hingga menggunung dan mengejutkan pemilik kebaikan itu. Apalagi bila kebaikan itu ditunaikan kepada orang tua yang begitu berjasa atas kehidupan kita? Bukankah Allah akan ridha bila orang tua meridhai kita?! Hanya 3 bulan berselang dari pendaftaran haji dan penyerahan biaya haji itu. Orang tua pun belum berangkat haji ke tanah suci, namun Muchtar sudah mendapatkan balasan ilahi. "Saya gak sangka pak, saat itu saya menerima bonus akhir tahun dari perusahaan senilai Rp360 juta…! Saya kaget dan saya teramat bersyukur kepada Allah Swt Yang Maha Pemurah. Sesampainya di rumah saya ceritakan ini kepada istri, dan istri saya pun terperanjat. Akhirnya, kami merasakan betapa Allah Swt menepati janjinya." Jelas Muchtar. Uang itu ia belikan mobil dan sebuah rumah. Ya sebuah rumah yang dibeli setelah ditangguhkan keinginan memilikinya demi berbakti kepada orang tua. Rumah itu kini lebih besar Allah beri daripada keinginan semula. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan? Ya, karenanya perbanyaklah kebaikan dan berbaktilah kepada orang tua! Salam, Bobby Herwibowo www.kaunee.com 
Ikhlas adalah sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh manusia pelaku amal dan Allah Swt saja. Tiada yang tahu selain mereka berdua, bahkan malaikat pencatat amal maupun setan penggoda. Ikhlas adalah dedikasi tulus demi mencari ridha Allah Swt, terbebas dari noda, keburukan dan niat jahat. Siapa yang beramal disertai dengan niat dan keinginan mencari tujuan selain Allah Swt maka amalnya akan gugur dan ia tidak akan mendapat balasan apapun dari Allah Yang Maha Pemurah. Seperti dikemukakan dalam sebuah hadits qudsi: Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Aku paling tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan dengan menyekutukan-Ku. Maka Aku akan meninggalkan dia dan sekutunya.’’” Dari sini kita dapat memahami bahwa Allah Swt Maha Pencemburu. Dia Swt tidak berkenan bila ada hambaNya yang beramal dengan tujuan selain Dia Swt. Karenanya, luruskan niatmu demi mencari keridhaanNya semata. Ada sebuah ayat menarik dalam surat An Nahl yang dijadikan Allah Swt sebagai ilustrasi keikhlasan. Ayat itu berbunyi: "dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang murni bersih antara tahi (kotoran) dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya."
Silakan baca sekali lagi dan resapi maknanya! Mungkin Anda bertanya apa hubungan ayat ini dengan keikhlasan?! Hubungannya adalah bahwa Allah Swt menyebut susu atau laban dalam ayat itu digandeng dengan kata khalisan yang berarti murni/bersih/ikhlas. Mengapa Allah menggunakan kata khalisan dalam urusan susu? Mungkin berikut ini jawabannya. Izinkan saya mengajak Anda untuk berilustrasi. Suatu kesempatan Anda dan saya pergi ke sebuah peternakan sapi. Di sana kita diperbolehkan untuk memerah sapi. Susu yang diperah dikumpulkan di sebuah bejana khusus. Dan kita jadi mengerti karenanya bagaimana proses memerah susu sapi. Namun saat susu itu dikumpulkan di bejana dan kita asyik memerahnya, tiba-tiba keluar dari puting susu tersebut setitik kotoran sapi atau darahnya. Celakanya, kotoran atau darah itu terjatuh pada bejana dimana susu itu dikumpulkan. Tentunya Anda merasa jijik membayangkan ilustrasi ini! Bahkan Anda tatkala mengetahui proses pemerahan susu rupanya seperti itu, boleh jadi Anda akan bersumpah serapah bahwa Anda akan berhenti minum susu karena jijik. Dan hal itu akan Anda sampaikan juga kepada anak dan kenalan Anda yang suka meminum susu. Itu hanyalah ilustrasi belaka! Jangan terlalu percaya, sebab insya Allah hingga saat ini proses pemerahan susu sapi maupun hewan lain tidak akan ternodai oleh kotoran maupun darah. Namun yang hendak saya sampaikan adalah bahwa itulah alasan Allah Swt menggunakan kata khalisan yang berarti ikhlas / murni saat memaparkan susu. Kalau Anda merasa jijik dan tidak mau minum susu lagi bila tercampur setetes kotoran atau darah, mungkin demikian juga Allah Swt akan merasa jijik menerima ibadah yang kita lakukan untukNya, namun ada setitik niat lain yang terbersit pada hati kita. Naudzubillah! "Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup" (QS. 21:30)Ayat ini merupakan ayat popular. Kerap dikutip orang saat menyatakan betapa pentingnya eksistensi air. Tidak satu pun makhluk hidup di dunia ini yang tidak butuh air. Bahkan komponen terbesar dalam tubuh manusia dan banyak makhluk lainnya adalah air.
Air merupakan nikmat yang tiada ternilai. Proses sebuah air hingga bisa dinikmati oleh manusia sering digambarkan oleh Allah Swt dalam ayatNya dengan skema yang tidak main-main. Negeri kering nan tandus, kemudian Allah Swt kumpulkan debit air dalam sebuah wadah terbang-bergerak bernama awan. Lalu awan tersebut ditiup dan digiring menuju negeri yang Dia Swt kehendaki. Maka atas izinNya hujan pun turun membawa ribuan ton debit air. Membasahi bumi… lalu setelah itu manusia menggunakannya untuk minum, mencuci, mandi, masak dan lain-lain. Duh andai saja manusia menyadari proses ini, pasti mereka wajib bersyukur.
"Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?" (QS. 56 : 68-70)
Seorang raja bernama Harun Ar Rasyid sedang dalam sebuah perjalanan melintasi sebuah gurun pasir menunggangi unta. Bersamanya ada sebuah lelaki bijak sang penasehat raja bernama Ibnu As Samak. Perjalanan panjang di siang yang panas. Terik matahari membuat dehidrasi dan sang khalifah pun kehausan. Pada satu tempat yang teduh, Harun ar Rasyid menepi. Disuruhnya As Samak untuk menggelar tikar dan membawa minuman untuknya.
Ibnu Samak menggelar tikar untuk sang raja dan menuangkan segelas air untuknya. Saat gelas sudah terisi oleh air, lalu Ibnu As Samak berujar, "Khalifah…, dalam kondisi panas dan tenggorokan kehausan seperti ini, andaikata bila kau tidak dapatkan air untuk minum kecuali dengan harus mengeluarkan separuh kekayaanmu, sudikah engkau membayar dan mengeluarkannya?!" Hari terik dan panas mencekat kerongkongan, tanpa pikir panjang khalifah ar Rasyid menjawab, "Saya bersedia membayarnya seharga itu asal tidak mati kehausan!"
Maka usai mendengarnya, Ibnus Samak memberikan segelas air itu dan khalifah pun tidak lagi kehausan.
Ibnu Samak lalu duduk di sisi khalifah Harun. Sejurus kemudian Ibnu Samak melontarkan pertanyaan lagi, "Khalifah, andai air segelas yang kau minum tadi tidak keluar dari lambungmu selama beberapa hari tentulah amat sakit rasanya. Perut jadi gak keruan dan semua urusan jadi berantakan karenanya. Andai kata bila kau berobat demi mengeluarkan air itu dan harus menghabiskan separuh kekayaanmu lagi, akankah kau sudi membayarnya?" Mendengar itu, sang khalifah merenungi kondisi yang disebut oleh Ibnus Samak. Seolah mengamini maka khalifah menjawab, "Saya akan membayarnya meski dengan separuh harta saya!"
Mendengar jawaban dari sang khalifah, maka Ibnus Samak sang penasehat raja yang bijak kemudian berkomentar, "O…., kalau begitu seluruh harta yang tuan khalifah miliki itu rupanya hanya senilai segelas air saja!"
Saudaraku…,
Ramadhan sebentar lagi akan kita jelang. Di sana selama beberapa hari Anda akan merasakan betapa segelas air akan menjadi tiada ternilai harganya. Setelah menahan haus dan lapar sehari penuh. Saat waktu ifthar menjelang, maka segelas air putih pun akan menjadi sesuatu yang bermakna. Saat air membasahi tenggorokan yang kering dan kehausan, maka Anda pun akan bersyukur kepada Allah Swt dengan suara lantang dengan lantunan doa:
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa alaa rizqika afthartu birahmatika yaa Arhamar Rahimin.
Di bulan ramadhan segala nikmat menjadi indah terasa, demikian juga nikmat seteguk air. Alangkah bagusnya bila ini terus berlangsung sepanjang masa.
Puji syukur untukMu ya Rabb!
Wasalam,
Bobby Herwibowo www.kaunee.com
Dari Abdullah bin Mas'ud Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Sedekah akan jatuh di tangan Allah, sebelum sedekah itu di terima oleh tangan peminta" (Al Hadits) Pagi itu Yudi, -bukan nama asli- sedang menyantap sarapan pagi bersama istri dan dua orang anaknya. Waktu saat itu menunjukkan pukul 05.20 WIB. Mereka bergegas menyantap sarapan. Itulah kebiasaan Yudi sekeluarga setiap hari. Mereka harus meninggalkan rumah setengah enam pagi kalau tidak ingin terlambat dalam aktivitas keseharian. Namun dalam ketergesaan di pagi buta itu, terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang. Istri Yudi segera berhambur ke arah pintu depan. Di sana rupanya ada seorang ibu tetangga rumah beserta anaknya yang datang dengan sebuah bungkusan. "Ada apa, ibu?" tanya istri Yudi. "Boleh saya bertemu dengan pak Yudi?" tanya sang tamu. Perempuan itu dipersilakan masuk. Ia menunggu di ruang tamu, sementara Yudi menyelesaikan sarapan. Usai itu, Yudi datang menyapa. Ia menanyakan ada apa gerangan. Di sisinya sang istri turut mendengarkan. Ibu sang tamu kemudian berkata lirih, "Pak Yudi, tolong beli handuk ini…!" *** Yudi dan istri saling bertatapan heran. Setahu mereka sang tetangga ini tidak pernah berjualan. "Sejak kapan sang ibu ini berjualan handuk?" batin mereka berdua. Namun mereka berdua merasa aneh, saat mereka membuka bingkisan yang disodorkan tiada lain adalah sebuah handuk bukan baru melainkan usang terpakai. Yudi dan istri terheran. Mereka tidak mengerti apa maksud sang ibu menawarkan handuk usang. Setelah beberapa saat, Yudi pun mendapatkan sebuah pertanyaan untuk dilontarkan. "Kenapa ibu mau jual handuk ini? Tanya Yudi. "Suami saya sudah beberapa hari gak pulang, Pak! Saya gak tahu apakah dia kabur karena kawin lagi atau sudah meninggal di jalan. Biasanya kalau lagi bawa truk ke Jawa, 1 minggu paling lama dia sudah pulang. Sampai sekarang sudah dua minggu lebih gak ada kabar. Gak ada telpon, sms atau apapun. Padahal di rumah saya gak punya uang dan makanan. Sudah 2 hari saya bilang ke anak-anak untuk sabar menahan lapar. Tapi tadi malam saya sudah gak kuat mendengar jerit anak-anak saya kelaparan. Tolong beli handuk ini, Pak…! Saya gak mau mengemis, saya juga gak berani ngutang. Tolong ya pak…!" ibu tadi menutup kalimatnya dengan nada memelas. Yudi dan istri merasa lemas mendengarnya. Keduanya menghela nafas panjang. Bergegas Yudi dan istri masuk ke dalam kamar. Mereka tidak kuat mendengar keluhan tetangga. Namun, celakanya uang yang mereka punya hanya Rp 200 ribu saja. "Berapa yang pantas untuk diberikan?" gumam mereka berdua. Akhirnya Yudi memutuskan untuk memberi uang sejumlah Rp 150 ribu. Padahal sebelumnya sang istri mengingatkan bahwa tanggal gajian masih seminggu lagi. Dari mana uang untuk makan dalam beberapa hari tersebut? Yudi menjawab singkat, "Allah pasti menolong kita!" Yudi memberikan sejumlah uang di atas kepada tetangganya. Setelah ibu itu berpamitan, Yudi dan seluruh anggota keluarga pergi meninggalkan rumah. Rute yang dilalui adalah; mengantarkan anak-anak ke sekolah, lalu ke tempat kerja istri dan terakhir menuju kantor. Yudi dan istri menikmati perjalanan rutin di pagi itu. Namun ada satu rasa di dalam hati mereka yang tengah bersemi. KEBAHAGIAAN & KEDAMAIAN, itu yang mereka rasakan. *** Energi kebaikan itu dirasakan oleh Yudi sepanjang hari. Senyum terus terkembang di wajahnya. Semua orang yang ia jumpai selalu menyapanya. Alangkah berkah hari itu Yudi rasakan. Pukul 16.00 WIB hari itu usai shalat Ashar, Direktur SDM di kantornya memanggil Yudi datang ke ruangan. Tak terlintas di benak Yudi, ada apa gerangan? Yudi mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk. Setelah duduk di sebuah kursi di ruang itu, Yudi bertanya ada apa gerangan ia dipanggil. Wajah sang direktur terlihat ceria. Beberapa kali senyuman terulas di wajahnya. Yudi bergumam, ini mungkin menjadi satu lagi penambah keberkahan hari Yudi. Setelah berbincang beberapa lama, sang direktur memberitahukan bahwa tahun ini seperti masa-masa sebelumnya perusahaan memberangkatkan 1 orang dari pegawai untuk berangkat ibadah haji. Direktur SDM itu memberitahukan bahwa pegawai yang beruntung tahun itu adalah YUDI!!! Allahu Akbar…., ! tubuh Yudi berguncang hebat. Tak mampu menahan gemuruh dalam ruang batinnya. Ia pun bersyukur kepada Allah dan tersungkur sujud. Ia tidak hanya menjabat tangan sang direktur, saking girangnya ia memeluk tubuh sang direktur dan ia ucapkan terima kasih berulang kali. *** Ia kembali ke rumah dengan hati berbunga. Rasanya kali itu adalah perjalanan pulang ke rumah yang paling indah yang pernah ia alami. Sambil memegang kemudi mobil, berkali-kali bulir air mata menetes di pipi Yudi. "Alangkah murahnya Allah!" hatinya memuji. Yudi pun tiba di rumah. Setelah mobil diparkir, ia pun lari berhambur mencari istrinya. Istrinya terheran-heran melihat gelagat suaminya, kemudia ia pun menanyakan Yudi apa yang terjadi? Yudi lalu menceritakan kabar gembira bahwa dirinya akan berangkat haji tahun ini. Setelah keduanya merasakan kegembiraan itu, keduanya pun mengerti bahwa Allah Swt memberikan anugerah yang amat berharga itu setelah Yudi dan istri memberikan bantuan kepada seorang ibu tetangga tadi pagi! Betapa pertolongan Allah amat cepat mendahului bantuan yang diberikan seorang hamba untuk saudaranya! Salam, Bobby Herwibowo www.kaunee.com Terkadang untuk menyampaikan sebuah kebenaran tidak perlu ceramah dan retorika. Tutur kata yang santun & perilaku mengesankan dapat membuat seseorang simpati lalu jatuh hati. Ubaid adalah seorang pegawai. Belasan tahun sudah ia bekerja di sebuah bank swasta. Orangnya jujur, rajin dan taat beribadah. Agama baginya bukan hanya di masjid dan dinikmati sendiri. Namun agama menurutnya adalah dakwah, berbagi dengan sesama sehingga nilai dan sinarnya dapat dirasakan oleh orang lain. Ubaid beruntung karena mendapatkan fasilitas KPR dari kantornya. Dua minggu sudah ia mencari-cari rumah yang sesuai dengan plafond kantor dan sesuai pula dengan keinginannya. Allah Swt menunjukkan rumah yang sesuai untuknya di sebuah bilangan di Ciputat - Tangerang, Cirendeu tepatnya. Ubaid menceritakan kepada istrinya rumah yang baru saja dilihat. Sore itu Ubaid berjanji untuk mengajak istrinya untuk melihatnya sekaligus meminta persetujuan atas rumah yang dimaksud. Setengah enam sore, Ubaid & istri berangkat dari rumah menuju Cirendeu. Baru separuh jalan, terdengarlah kumandang adzan Maghrib. Mendengarnya, Ubaid berujar kepada istrinya , "Shalat Maghrib kita numpang saja ya di rumah yang mau kita lihat..!" Istrinya pun mengiyakan usul Ubaid. Ubaid & istri sampai di rumah itu. Pemilik rumah menyambut mereka dengan seulas senyum. Mereka dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Dalam pembicaraan yg mereka lakukan, Ubaid & istri mengetahui bahwa ibu pemilik rumah adalah seorang janda usia 50 tahun lebih beranak dua. "Berapa bu rumah ini mau dijual?" tanya istri Ubaid kepada pemilik rumah. "Saya mau lepas dengan harga 300 juta" sahut pemilik rumah. "Gak boleh kurang?" tandas istri Ubaid. "Itu juga sudah murah... Kemarin ada yang tawar 260 juta saya gak kasih" jawab pemilik rumah. Mendengarnya Ubaid & istri menjadi paham harga yang diinginkan pemilik rumah, namun plafond dari kantor untuk Ubaid hanya Rp 250 juta. Ubaid & istri saling berpandangan. Budget mereka tidak sesuai dengan harga rumah yg diinginkan. *** Ubaid melirik jam di pergelangan tangannya. Masya Allah...! Waktu Isya sebentar lagi tiba, padahal Ubaid & istri belum shalat Maghrib... Ubaid lalu berkata kepada pemilik rumah, "Ibu, boleh kami numpang shalat di sini?" Mendengar kalimat itu rona wajah pemilik rumah berubah drastis. Tampak kebingungan & sedikit tegang. Ubaid merasakan hal itu, ia pun meralat kalimatnya, "Kalo gak boleh shalat di sini, masjid yang terdekat dimana ya...?" Kalimat ini pun menambah kekikukan bagi pemilik rumah, dan ia pun menyergah "Masjid jauh dari sini!!!" Ubaid pun menjadi bingung atas sikap & jawaban dari pemilik rumah. Dalam hati ia menduga kalau-kalau pemilik rumah bukan seorang muslimah. Namun Ubaid & istrinya harus segera shalat Maghrib, ia pun berujar, "Kalo gak boleh shalat di dalam rumah, bolehkah kami shalat di teras?" Merasa terdesak, pemilik rumah akhirnya mengizinkan. Maka jadilah Ubaid & istrinya shalat Maghrib di teras rumah. Tanpa alas apapun sebagai sejadah mereka. *** Usai shalat, Ubaid dan istri melanjutkan pembicaraan dengan pemilik rumah. Tidak berlangsung lama, mereka pun berpamitan. Sayang malam itu tidak ada angka yang disetujui oleh mereka, baik oleh Ubaid dan istri ataupun dari pemilik rumah. Masing-masing bertahan dengan harga dan uang yang mereka mau. "Malam itu akhirnya gak ada angka yang pas buat kita, beliau maunya 300 juta, padahal saya hanya boleh ngambil KPR maksimal Rp250 juta" demikian Ubaid bercerita kepada saya. "Namun pak, aneh sungguh aneh luar biasa.... keesokan paginya, ibu pemilik rumah menelpon ke hp saya!" Ubaid melanjutkan ceritanya. Kalimat terakhir yang ia ucapkan membuat saya bertanya ada apa gerangan. Ubaid bercerita bahwa pemilik rumah itu bertanya lewat pembicaraan telpon pagi-pagi sekali, "Pak Ubaid, saya nelpon cuma mau tanya, apakah setiap rumah yang hendak bapak beli harus disembahyangin dulu...?!" Saat Ubaid sampaikan kalimat itu, dahi saya berkernyit dan membuat saya berujar, "Maksudnya apa?" "Itu dia pak..., saya pun menanyakan hal yang sama kepada ibu itu?!" sahut Ubaid. Lalu Ubaid menceritakan bahwa ibu pemilik rumah itu menanyakan kepadanya apakah setiap rumah yang mau dibeli harus dishalatin dulu? "Saya bilang sama ibu tadi bahwa saat itu kami berdua belum shalat Maghrib padahal waktu Isya sudah hampir masuk... jadi apa yang kami lakukan adalah sebuah kewajiban bukannya untuk menentukan rumah itu cocok atau tidak...!" Ubaid menjelaskan kalimat yang ia sampaikan kepada ibu pemilik rumah. "Tapi pak..., ibu itu berkata bahwa entah kenapa usai saya & istri pulang ia merasa cocok dan menjadi tenang hatinya, makanya pagi itu beliau menelpon ke hp saya" Ubaid menambahkan. Lebih panjang Ubaid bercerita kepada saya bahwa ibu itu mengaku sudah hampir 30 tahun tidak pernah shalat sejak ia ditinggal oleh suaminya dan harus membesarkan kedua anaknya. Hidupnya panik dan sulit. Ia harus bekerja dan mencari nafkah. Duit dan duit yang ada dalam kepalanya, dia lupa sama sekali untuk menyembah Allah. "Sekarang, ibu itu tidak kurang 3 kali dalam seminggu pasti menelpon atau berkunjung ke rumah. Dia mau belajar menjadi muslimah lagi katanya" Ubaid menjelaskan kepada saya. "Rumah itu sudah kami beli darinya. Harganya pun amat menakjubkan...! Jauh dari dugaan kami semula... Kami membelinya dengan harga Rp 220 juta saja!!!" tambah Ubaid. Saya takjub mendengarnya. "Lebih hebatnya lagi..., sampai sekarang rumah itu baru separuh kami bayar. Bukan karena keinginan kami, tapi keinginan ibu itu!!!" tegas Ubaid. Saya langsung bertanya keheranan , "Kok bisa begitu...?" "Dia bilang bayar saja sisanya kalau saya sudah merasa puas belajar ibadah kepada pak Ubaid dan keluarga...!" Ubaid menutup kalimatnya sambil tersenyum. *** Subhanallah.... kisah itu begitu berarti bagi saya yang mendengarnya. Terkadang bila ibadah sudah mewujud dalam akhlak seseorang, maka simpati dari sesama akan terbit dan menyinari kehidupan yang kita jalani. Ternyata, semuanya menjadi makin indah dengan ibadah!!! Jazakumullah Ubaid atas inspirasinya! Salam, Bobby Herwibowo www.kaunee.com Usai shalat Zuhur di siang itu, seorang ibu berusia kira-kira hampir 40 tahun datang ke tempat saya bersama supirnya untuk menjemput. Ibu itu bernama Loli, -sebutlah demikian-. Seorang ibu pebisnis, peduli masyarakat dan mencintai Allah sepenuh hati. Itu setidaknya deskripsi singkat yang saya tahu tentang beliau. Perjalanan menuju tempat pertemuan di daerah Slipi penuh pembicaraan agama yang antusias. Saya bersyukur kepada Allah Swt atas pertemuan yang sarat berkah ini. Hingga dalam babak-babak awal perjalanan, meluncurlah sebuah kalimat tanya dari mulut ini, "Ibu Loli sudah berapa anaknya?" Saya menganggap hal ini wajar ditanyakan sebagai pembuka bicara. "Alhamdulillah belum punya, pak!" jawabnya. Mendengarnya saya menyesal... tersedak...! Hampir saja saya meminta maaf atas pertanyaan tadi. Saya khawatir itu membuatnya sedih. "Alhamdulillah Allah belum kasih… tapi saya senang kok! Mungkin Allah belum kasih saya anak supaya saya bisa mencintaiNya selalu" beliau menambahkan. Saya mengira jawaban yang ibu Loli lontarkan adalah jawaban orang sedih untuk membesarkan hati. Namun ternyata dugaan saya salah! *** Ibu Loli bercerita kepada saya bahwa sudah 12 tahun ia menikah. Selama itu ia dan suami selalu berharap agar Allah Swt memberi mereka anugerah keturunan. Selama itu ia selalu meminta kepada Allah apa yang ia inginkan berupa keturunan. Lama-kelamaan ia berpikir bahwa selama ini ia telah mendikte Allah Swt, seolah Allah tidak tahu kebutuhan hambaNya. "Akhirnya saya jadi malu juga selalu meminta dalam berdoa kepada Allah. Sejak saat itu saya serahkan kepadaNya apa yang terbaik untuk saya, dan saya semakin bertambah cinta kepada Allah" jelas ibu Loli. Cinta kepada Allah terus tumbuh di hati Loli. Malah Allah hadirkan sebuah buku yang amat indah untuk dibaca dan buku itu berisikan tentang hubungan Allah dan hambaNya. "Tiga kali saya baca buku itu, tiga kali saya hamil dan tiga kali saya keguguran…" Loli berujar. "Dalam buku itu saya membaca bab MENCINTAI ALLAH. Usai membaca bab itu hati saya senang dan Allah Swt mentaqdirkan saya hamil. Saya amat bergembira dan saya merawat kehamilan saya sebaik mungkin. Saya bersyukur kepada Allah Swt atas karunia berharga ini." "Namun begitu pindah ke bab TAWAKKAL, saya merasa bahwa semua urusan hidup sudah Allah atur. Saya berpasrah kepadaNya… dan setelah itu saya keguguran. Tapi saya dapati hati saya tidak sedih karenanya. Saya mencoba bersabar dan pasrah dengan ketentuan Allah Swt. Saya rasakan, semuanya jadi indah lho pak kalau kita pasrahkan pada ketentuanNya!" tegas ibu Loli. Saya terdiam... menyimak dengan dalam setiap kalimatnya. Saya berharap ibu Loli menjelaskan lagi lebih jauh bagaimana dia bisa melewati hal-hal getir dengan senyum dan sabar. *** Ruangan RS bersalin itu dipenuhi 4 orang. Warna putih mendominasi di setiap sudut. Pucat setiap warna yang hadir dalam ruangan yang merebak aroma obat-obatan. Sepucat wajah keempat orang yang menemani Loli di dalamnya. "Itu kali ketiga saya mengalami pendarahan dari rahim..." bu Loli mencoba menjelaskan. Ia mengalami pendarahan cukup serius dari kehamilannya hingga ia jatuh pingsan. Suaminya segera membawa mobil dengan kencang ke RS bersalin tempat Loli selalu memeriksa kandungan. Kebetulan mama Loli yang berdomisili di Belanda beberapa hari itu ada di Jakarta dan mendampingi buah hatinya untuk menghadapi kejadian yang tidak mengenakan ini. Mobil diparkir dan Loli pun dibawa segera ke ruang tindakan. Hanya dalam beberapa puluh menit dokter dan perawat yang menangani telah tahu hasil dari pendarahan yang terjadi. KEGUGURAN, itulah berita pahit yang akan mereka sampaikan. Menetes air mata saat suami dan mama Loli mendengar berita dokter. Tubuh mereka berguncang dan bibir pun digigit untuk meredam duka. Tak terbayang betapa ujian ini terjadi berulang-ulang. Tiga kali sudah berarti Loli dan suaminya mengalami hal serupa setelah 12 tahun menikah. *** Selang beberapa lama Loli siuman. Ia membuka mata dan ia dapati ada 4 orang yang ia kenal di sana. Mama, suami, dokter dan seorang perawat. Loli menatapi satu per satu wajah mereka dengan seksama. Semuanya tersenyum, namun senyum tersebut tidak menyibak ketulusan. Loli menduga bahwa ada hal yang mereka sembunyikan dari dirinya. Pandangan pun ia lemparkan ke arah dokter. Loli pun bertanya, "Dokter...., saya keguguran ya?!" Sang dokter tak sanggup berkata apa-apa. "Dokter...., saya keguguran ya?! Dokter...., saya keguguran ya?!" berkali-kali Loli bertanya kepada dokter, namun dokter tak mau bicara. "Dokter...., saya keguguran ya?! Ah pak dokter..., bilang aja kalau saya keguguran...! Saya ikhlas kok kalau memang benar begitu" ujar Loli. Karena didesak berkali-kali, dokter pun menyampaikan seadanya. Suami & mama Loli kembali meneteskan air mata, tak sanggup mereka bayangkan betapa hati Loli akan menderita. Namun aneh, Loli tak sedikit pun menunjukkan gurat kesedihan... hingga akhirnya ia pun dibawa pulang ke rumah. *** "Betul lho pak saya gak sedih saat itu. Saya pasrah banget sama Allah! Saya sendiri bingung kok punya perasaan yang amat beda dengan kebanyakan orang. Hingga dalam perjalanan pulang malam itu, ibu saya bilang, 'Loli, mama bingung sama kamu... kok kamu gak ada sedih-sedihnya sedikitpun. Mama aja sampai nangis berkali-kali mikirin nasibmu. Eh..., orang yang ditangisin cuma bisa cengengesan doang!" jelas bu Loli bersemangat. *** Saya kagum sekali menyimak cerita ini. Betapa indah halawatul iman yang Allah berikan kepada ibu Loli. Hingga manisnya nikmat dan getirnya musibah dapat dirasakan dengan kesyukuran dan kesabaran. Saya kagum dan salut... dalam hati saya bergumam, "Hebat... hebat... hebat dan mengagumkan sosok ibu yang satu ini!" seperti Rasulullah Saw mengatakan hal serupa kepada setiap mukmin yang bersyukur & bersabar bahwa mereka teramat mengagumkan. "Sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin. Keadaan mereka senantiasa mengandung kebaikan. Hal demikian itu tidak akan terjadi, kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar. Itupun, juga merupakan kebaikan untuknya." HR. Muslim Kebaikan Allah Swt semoga untukmu selalu, bu Loli! Salam, Bobby Herwibowo www.kaunee.com
| |